TREN.BISNISMARKET.COM - Struktur kelas ekonomi masyarakat di Indonesia terus menjadi sorotan, terutama di tengah gejolak inflasi dan ketidakpastian ekonomi nasional. Batas antara kelompok kelas menengah dan kelas bawah kini terasa semakin tipis, menuntut adanya introspeksi finansial yang jujur.

Banyak individu yang merasa aman di zona kelas menengah, padahal kondisi finansial riil mereka mungkin telah bergeser ke lapisan ekonomi yang lebih bawah. Untuk mengidentifikasi pergeseran ini, indikator aktivitas sehari-hari dapat menjadi acuan penting dalam refleksi keuangan pribadi.

Dilansir dari CNBC Indonesia, terdapat lima indikasi kuat yang sering muncul dalam kehidupan masyarakat yang berada di segmen ekonomi bawah atau kelas menengah bawah saat ini. Indikator ini penting untuk dicermati demi perencanaan keuangan yang lebih matang ke depan.

Salah satu penanda utama adalah masalah kepemilikan hunian yang layak, sebab tempat tinggal merupakan komponen pengeluaran terbesar dalam rumah tangga. Jika sebagian besar pendapatan habis hanya untuk membayar sewa kontrakan yang kondisinya minim, ini menjadi sinyal kuat posisi ekonomi Anda berada di bawah.

Karakteristik lain terlihat dari jenis pekerjaan yang dijalani, di mana stabilitas pendapatan kerap kali tidak terjamin. Mayoritas golongan ini bekerja di sektor informal atau sebagai buruh harian lepas tanpa adanya kepastian penghasilan bulanan yang reguler.

Pekerjaan yang rentan ini juga umumnya tidak dilengkapi dengan jaminan sosial memadai seperti asuransi atau tunjangan lain yang dinikmati oleh pekerja di kelas ekonomi atas dan menengah. Hal ini meningkatkan kerentanan mereka terhadap guncangan finansial tak terduga.

Fondasi kekayaan jangka panjang, yaitu menabung dan berinvestasi, seringkali menjadi kemewahan yang sulit dijangkau oleh kelompok ini karena fenomena living paycheck to paycheck. Pendapatan yang ada habis untuk memenuhi kebutuhan pokok dasar tanpa menyisakan dana darurat.

Gaya hidup masyarakat kelas bawah cenderung kaku dan terbatas, di mana rekreasi atau hiburan dianggap sebagai pemborosan yang mengancam stabilitas dapur. Berbeda dengan kelas menengah ke atas yang memiliki ruang fleksibilitas anggaran untuk kesenangan kecil.

Selain itu, akses terhadap pendidikan tinggi seringkali menjadi penghalang yang nyata untuk mobilitas sosial ke atas. Biaya kuliah yang terus meningkat membuat jenjang perguruan tinggi terasa mustahil dijangkau tanpa menimbulkan beban utang yang besar.