TREN.BISNISMARKET.COM - Kecenderungan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergeseran signifikan, di mana model-model AI yang dikembangkan di China mulai banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan AS. Fenomena ini terjadi seiring dengan meningkatnya kepercayaan terhadap kapabilitas model AI dari China, terutama karena penawaran harga yang lebih kompetitif dibandingkan dengan model sejenis dari Amerika.

Model AI China terkemuka, seperti DeepSeek dan Z.ai, kini dianggap memiliki kemampuan yang setara dan mampu bersaing dengan model unggulan dari AS, misalnya Anthropic dan OpenAI. Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga token untuk mengakses model-model AI buatan raksasa teknologi Amerika yang membuat perusahaan mencari alternatif lebih terjangkau.

Di tengah tantangan ekonomi saat ini, banyak perusahaan mencari jalan keluar untuk menekan biaya operasional, sehingga mereka mempertimbangkan model AI alternatif yang lebih murah. Hal ini menjadi alasan utama mengapa ketergantungan pada model AI mahal dari AS mulai dikurangi secara bertahap.

Data dari OpenRouter, sebuah platform yang menyediakan akses ke berbagai model AI, menunjukkan peningkatan adopsi token dari model-model AI China oleh perusahaan-perusahaan AS. Peningkatan pangsa pasar model China ini tercatat mencapai angka tertinggi sebesar 46% pada 7 Juli 2026, setelah mengalami kenaikan signifikan di atas 30% setiap minggunya sejak 8 Februari 2026. Dilansir dari CNBC International, data ini menyoroti tren perubahan perilaku pengembang teknologi.

Popularitas model sumber terbuka (open-source) dari China ini terjadi bersamaan dengan upaya pemerintah AS untuk memperketat regulasi terhadap model AI tercanggih mereka. Pembatasan ini sempat terlihat ketika OpenAI mengumumkan akan membatasi peluncuran model baru atas permintaan pemerintahan Trump pada akhir Juni lalu.

"Model-model AI China sangat menarik bagi perusahaan-perusahaan AS saat ini, seiring meningkatnya biaya AI [untuk model-model buatan AS]," kata Kyle Chan, rekan peneliti di John L. Thornton China Center di lembaga think tank Brookings.

Kyle Chan menambahkan bahwa fokus perusahaan telah bergeser dari sekadar adopsi AI menjadi kesadaran akan biaya yang dikeluarkan. "Sebelumnya, perusahaan-perusahaan AS memprioritaskan adopsi AI, kini mereka lebih sadar dengan biaya yang harus dikeluarkan," tambahnya.

Para engineer kini cenderung bereksperimen dengan model open-source dan open-weight seiring perusahaan mulai mengimplementasikan AI untuk efisiensi internal dan produk baru. Model open-source membagikan seluruh 'resep' sistem AI, termasuk parameter pelatihan dan dataset, berbeda jauh dengan model tertutup AS seperti yang ditawarkan OpenAI dan Google.

Startup AI Lindy menjadi salah satu contoh nyata efisiensi biaya ini, di mana CEO Flo Crivello mengumumkan pemindahan 100% trafik layanannya dari model Claude milik Anthropic ke model DeepSeek dari China. "Kami melihat biaya berkurang jauh," kata Flo Crivello kepada CNBC International, menyebutkan penghematan anggaran hingga miliaran dolar AS dalam beberapa bulan.