TREN.BISNISMARKET.COM - Obat yang mengandung zat aktif semaglutide, seperti Ozempic dan Wegovy, mengalami lonjakan penggunaan signifikan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memperluas izin penggunaannya untuk manajemen berat badan pada tahun 2021. Sebelumnya, obat dari golongan Glucagon-Like Peptide-1 Receptor Agonists (GLP-1RAs) ini memang diperuntukkan sebagai obat resep bagi penderita diabetes tipe 2 untuk mengontrol kadar gula darah.

Mekanisme kerja GLP-1RAs adalah meniru hormon alami dalam tubuh yang berfungsi menstimulasi produksi insulin, menekan pelepasan glukagon, dan memperlambat proses pengosongan lambung. Efek ganda ini membuat semaglutide sangat efektif tidak hanya dalam mengatur gula darah, tetapi juga dalam membantu menurunkan berat badan.

Seiring dengan meledaknya popularitas konsumsi Ozempic atau Wegovy oleh masyarakat luas, terjadi pula peningkatan laporan kasus keracunan yang diterima oleh berbagai pusat pengendalian racun di Amerika Serikat. Dalam analisis yang dilakukan, semaglutide teridentifikasi sebagai faktor penyebab terbesar di antara obat-obatan lain dalam peningkatan insiden keracunan tersebut.

Peneliti dari University of Texas (UT) San Antonio, Jordan Miller, bersama timnya berupaya menyelidiki apakah kenaikan kasus keracunan ini memiliki korelasi langsung dengan perluasan izin edar oleh FDA yang terjadi pada momentum yang bersamaan. Hal ini menjadi fokus utama penelitian mereka untuk memahami akar masalah peningkatan insiden tersebut.

"Kami menduga lonjakan tajam dalam volume laporan kasus keracunan disebabkan penyalahgunaan dan penanganan yang keliru terhadap obat ini [Ozempic dan Wegovy], serta kemungkinan berkaitan dengan persetujuan FDA atas penggunaan obat ini untuk pengendalian berat badan," kata David Han, mentor penelitian Miller sekaligus Romo Endowed Professor di Departemen Statistik & Sains Data UT San Antonio, Dikutip dari ScienceDaily, Kamis (9/7/2026).

Sebelum persetujuan FDA pada pertengahan 2021 untuk penggunaan GLP-1RAs dalam mengatasi obesitas, pusat pengendalian racun di AS rata-rata menangani antara 1.000 hingga 1.500 kasus keracunan terkait golongan obat ini per tahun. Namun, angka tersebut melonjak hampir dua kali lipat setelah persetujuan tersebut, mencapai sekitar 8.000 telepon terkait keracunan GLP-1RAs yang tercatat pada tahun 2023.

Meskipun mayoritas insiden keracunan tersebut melibatkan kesalahan dosis yang tidak disengaja atau kekeliruan dalam penggunaan terapeutik yang diresepkan, besarnya peningkatan kasus yang terjadi tetap mengejutkan tim peneliti yang melakukan analisis data.

"Dalam data yang melacak peningkatan berdasarkan jenis obat tertentu, saya tidak menyangka semaglutide akan begitu sangat mendominasi," kata Jordan Miller.

"Saya memang menduga obat itu akan menempati urutan teratas, namun angkanya sungguh mencengangkan. Di sisi lain, hal ini masuk akal mengingat besarnya sorotan media," tambah Miller, Dikutip dari ScienceDaily.