TREN.BISNISMARKET.COM - Gangguan pada pasokan gas alam cair (LNG) global yang dipicu oleh konflik Timur Tengah serta hambatan pelayaran di Selat Hormuz telah memberikan dampak yang relatif terbatas pada kondisi pasar gas domestik di Indonesia.
Kondisi ini sangat kontras dengan sejumlah negara importir LNG lain di kawasan Asia yang mengalami tekanan signifikan terhadap konsumsi energi mereka akibat kenaikan harga gas yang terjadi secara masif.
Berdasarkan temuan terbaru dari IEA Gas Market Report Q3-2026, permintaan gas alam di Asia pada semester pertama tahun 2026 mengalami penyusutan sekitar 1%, setara dengan hampir 5 miliar meter kubik dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Penyebab utama penurunan permintaan ini adalah kondisi pasokan LNG global yang menjadi semakin ketat sejak adanya gangguan terhadap arus pengiriman melalui Selat Hormuz yang sudah berlangsung semenjak awal Maret 2026.
Lonjakan harga LNG tersebut mendorong banyak negara di Asia untuk segera menerapkan kebijakan penghematan konsumsi gas serta mempercepat transisi energi menuju batu bara dan energi nuklir demi menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
Namun, dampak yang dirasakan oleh Indonesia dinilai jauh lebih ringan karena posisi Indonesia masih sebagai salah satu produsen utama gas alam di kawasan tersebut, sehingga kebutuhan impor LNG relatif kecil.
Dilansir dari Bisnis.com, "Gangguan pasokan LNG melalui Selat Hormuz sejauh ini berdampak lebih terbatas pada pasar gas alam Indonesia dan Malaysia, mengingat kedua negara tersebut merupakan produsen gas alam utama dan memiliki kebutuhan impor yang terbatas," tulis laporan IEA dikutip Rabu (8/7/2026).
International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa konsumsi gas alam di Indonesia memang mengalami penurunan sekitar 3% secara tahunan selama empat bulan pertama tahun 2026. Penurunan ini lebih dipengaruhi oleh dinamika permintaan domestik, bukan karena terganggunya pasokan LNG impor.
Kondisi serupa juga teramati di Malaysia, di mana sebagai sesama negara produsen gas, permintaan gas mereka turun sekitar 4% secara tahunan pada periode yang sama, dengan dampak gangguan pasokan dari Selat Hormuz yang dinilai minim.