TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia tengah berupaya keras mengembangkan ekosistem ekonomi haji sebagai jalan membuka nilai tambah signifikan bagi perekonomian nasional. Upaya strategis ini dilakukan oleh Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) untuk mengoptimalkan manfaat ekonomi dari kegiatan ibadah tersebut.
Namun, pengembangan ekosistem ini harus menghadapi tantangan signifikan, terutama potensi kenaikan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) pada tahun 2027. Isu pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya operasional di Tanah Suci menjadi faktor utama yang menguji keberlanjutan visi ekonomi haji ini.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kemenhaj, Jaenal Effendi, memaparkan bahwa potensi ekonomi gabungan dari sektor haji dan umrah diperkirakan mencapai sekitar Rp80 triliun per tahun. Besaran potensi ini menuntut adanya pengembangan ekosistem yang terintegrasi agar nilai manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.
"Pengembangan ekosistem ekonomi haji merupakan upaya untuk memastikan penyelenggaraan haji tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pelayanan ibadah, tetapi juga menghadirkan nilai tambah bagi perekonomian nasional melalui peningkatan keterlibatan produk, jasa, dan pelaku usaha dalam negeri," kata Jaenal Effendi dalam Rapat Kerja Nasional di Jakarta, dikutip dari keterangan resmi, Selasa (7/7/2026).
Jaenal Effendi menilai bahwa besarnya aktivitas haji dan umrah seharusnya mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan industri domestik. Sektor-sektor yang diharapkan terdorong antara lain industri produk halal, logistik, transportasi, hingga berbagai sektor jasa terkait.
Salah satu strategi konkret yang diperluas adalah meningkatkan penetrasi produk-produk Indonesia dalam kebutuhan haji dan umrah. Saat ini, pemerintah telah berhasil mengekspor 28 jenis bumbu Nusantara dengan volume mencapai lebih dari 300 ton, serta menyediakan sekitar 3,1 juta paket makanan siap saji.
Selain produk, pengembangan juga menyasar sektor transportasi dan pariwisata, khususnya melalui optimalisasi penerbangan kosong atau empty flight. Inisiatif ini bertujuan menarik wisatawan dari kawasan Timur Tengah untuk berkunjung ke Indonesia.
"Hingga saat ini, inisiatif tersebut telah mencapai 1.723 penumpang dan akan terus dikembangkan untuk memperluas dampaknya ke depan," terang Jaenal Effendi mengenai perkembangan program pariwisata tersebut.
Lebih lanjut, Kemenhaj mendorong investasi dari hulu ke hilir dalam rantai nilai haji, dengan estimasi peluang keterlibatan pelaku usaha nasional mencapai 30% hingga 40%. Untuk mengintegrasikan semua pihak, pemerintah sedang mengembangkan platform ekonomi haji berbasis digital yang akan menjadi penghubung ekosistem.