TREN.BISNISMARKET.COM - Forbes Advisor baru-baru ini memublikasikan hasil analisis mereka mengenai mata uang dengan nilai tukar tertinggi di dunia untuk tahun 2026. Publikasi ini dirilis pada awal Mei 2026 dan menyajikan sebuah pandangan menarik mengenai lanskap keuangan global saat ini.

Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa Dinar Kuwait (KWD) menduduki peringkat pertama sebagai mata uang paling kuat secara nominal. Kekuatan ini diukur berdasarkan nilai tukar mata uang asing terhadap Dolar Amerika Serikat (AS), di mana satu Dinar Kuwait menunjukkan nilai yang jauh lebih tinggi.

Dominasi negara-negara Timur Tengah dalam daftar ini sangat terasa, di mana banyak dari mereka menempati peringkat teratas. Hal ini disebabkan oleh tingginya volume ekspor komoditas minyak dan gas bumi yang dimiliki oleh negara-negara kawasan tersebut.

Ekspor energi yang masif ini secara signifikan memperkuat cadangan devisa serta menjaga stabilitas moneter negara-negara tersebut. Dinar Kuwait sendiri telah beredar sejak dekade 1960-an dan kini nilainya terikat pada sekeranjang mata uang internasional setelah sempat dipatok pada Poundsterling Inggris.

Peringkat kedua ditempati oleh Dinar Bahrain (BHD), yang nilai tukarnya dijaga stabil melalui sistem patokan terhadap Dolar AS sejak tahun 1965. Sementara itu, Rial Oman (OMR) berada di posisi ketiga, didukung oleh ekspor sektor energi yang besar sejak mata uang tersebut beredar pada tahun 1970-an.

Menariknya, Dinar Yordania (JOD) menempati urutan keempat tanpa mengandalkan cadangan minyak bumi, melainkan melalui penerapan kontrol moneter yang ketat sejak tahun 1950. Di posisi kelima, Poundsterling Inggris (GBP) muncul sebagai salah satu instrumen pembayaran tertua di dunia yang nilainya bergerak bebas mengikuti mekanisme pasar.

"Kekuatan fundamental moneter sebuah negara tidak hanya dipandang dari nominal angka mentah terhadap dollar AS saja," ujar Donna Hettinger, seperti dikutip dari Internasional melalui data Forbes Advisor 2026.

Dilansir dari Internasional melalui data Investopedia, terdapat lima parameter ekonomi makro yang menjadi pengontrol pergerakan valuta asing. Parameter pertama adalah tingkat inflasi yang rendah, yang menjaga daya beli publik dan memperkuat nilai mata uang domestik.

Parameter kedua adalah kebijakan kenaikan suku bunga oleh bank sentral, yang berpotensi menarik masuk modal asing untuk mencari imbal hasil investasi yang lebih tinggi. Ketiga adalah kondisi neraca transaksi berjalan; defisit akibat impor berlebih dapat menekan nilai tukar mata uang lokal.