TREN.BISNISMARKET.COM - Penurunan muka air Danau Toba, salah satu danau vulkanik terbesar di dunia, ternyata memiliki penyebab yang lebih kompleks daripada sekadar perubahan iklim. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui penelitian mendalam menemukan bahwa aktivitas manusia turut memberikan kontribusi signifikan terhadap dinamika permukaan air di danau super vulkanik ini.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Hendri, memimpin analisis data tinggi muka air Danau Toba yang dikumpulkan selama periode panjang, mulai dari tahun 1957 hingga 2020. Hasil riset ini menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab penurunan muka air telah mengalami pergeseran dari waktu ke waktu, mencerminkan perubahan kondisi lingkungan dan aktivitas di sekitar danau.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa memang terjadi penurunan muka air Danau Toba, tetapi penyebabnya berbeda pada setiap periode," ujar Hendri dalam keterangan tertulis yang dikutip dari laman resmi BRIN pada Jumat (24/7/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya memahami evolusi penyebab penurunan muka air untuk pengelolaan yang efektif.

Titik balik penting dalam dinamika muka air Danau Toba teridentifikasi terjadi pada tahun 1984. Periode ini bersamaan dengan mulai beroperasinya Bendungan Sigura-gura dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Peristiwa ini mendorong peneliti untuk membagi analisis menjadi dua fase: sebelum dan sesudah tahun 1984.

Sebelum tahun 1984, yaitu pada rentang waktu 1957-1984, muka air Danau Toba dilaporkan mengalami penurunan rata-rata sekitar 22 milimeter per tahun. Periode ini menunjukkan dominasi pengaruh variabilitas iklim, khususnya fenomena El Niño, yang secara signifikan mengurangi curah hujan di wilayah tangkapan air Danau Toba.

Memasuki periode setelah tahun 1984, laju penurunan muka air Danau Toba mengalami perlambatan yang cukup drastis, dengan rata-rata penurunan hanya sekitar 2 milimeter per tahun. Meskipun demikian, fluktuasi muka air dari tahun ke tahun tetap menjadi karakteristik yang terlihat pada periode ini, menunjukkan adanya faktor lain yang turut berperan.

Hendri merinci bahwa penurunan muka air yang ekstrem pernah terjadi pada tahun 1987, 1990, 1998, dan 2016. Kejadian-kejadian ini erat kaitannya dengan kombinasi fenomena alam, yaitu El Niño yang berpadu dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang berdampak pada pola cuaca di wilayah tersebut.

Di sisi lain, riset BRIN secara tegas menunjukkan bahwa aktivitas manusia mulai menunjukkan pengaruh yang lebih dominan setelah tahun 1984. Penggunaan air dalam skala besar untuk operasional PLTA menjadi kontributor utama, bahkan melampaui dampak aktivitas domestik masyarakat. Perubahan tata guna lahan di kawasan tangkapan air juga turut memperburuk kondisi cadangan air Danau Toba.

Analisis citra satelit yang dilakukan tim peneliti memperlihatkan adanya pengurangan luas hutan alami di kawasan Danau Toba sekitar 29% dalam rentang waktu 1988 hingga 2020. Sebaliknya, tutupan hutan tanaman justru mengalami peningkatan signifikan. Selain itu, kawasan permukiman dan lahan pertanian juga terus meluas, mengindikasikan tekanan antropogenik yang meningkat.