TREN.BISNISMARKET.COM - Kekhawatiran global melanda kelas pekerja akibat perkembangan pesat Kecerdasan Buatan (AI) yang signifikan. Banyak pihak mulai cemas mengenai potensi hilangnya pekerjaan di masa depan, terlebih saat gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih terus terjadi di berbagai sektor.

Di tengah kekhawatiran tersebut, para pengusaha kaya dan raksasa teknologi justru menyuarakan pandangan optimis bahwa AI akan membawa manfaat besar bagi kehidupan manusia. Mereka meyakini bahwa meskipun AI mungkin memangkas beberapa jenis pekerjaan, otomatisasi ini juga akan mendorong terciptanya jenis pekerjaan baru.

Salah satu figur kunci dengan pandangan positif ini adalah Orlando Bravo, pendiri miliarder dari perusahaan ekuitas swasta Thoma Bravo. Bravo berpendapat bahwa AI akan membawa transformasi positif bagi pekerja junior dengan menghilangkan tugas-tugas rutin yang ia sebut sebagai 'pekerjaan kasar'.

Penegasan ini disampaikan Bravo saat berbincang dengan Annette Weisbach dari CNBC International dalam konferensi SuperReturn di Berlin. Ia percaya bahwa peran karyawan junior akan menjadi lebih 'signifikan' dan mereka akan mencapai kematangan profesional lebih cepat berkat dukungan teknologi baru tersebut.

"Secara keseluruhan, sekarang mereka [pekerja junior] benar-benar fokus pada investasi operasional dan cara berpikir yang jauh lebih luas tentang bisnis," kata Bravo, Dikutip dari CNBC International, Kamis (11/6/2026).

Bravo juga menyoroti bagaimana AI dapat meningkatkan kualitas hidup para pekerja dengan mengambil alih tugas mendesak di luar jam kerja normal. "Saya jadi lebih jarang mengganggu mereka, karena tengah malam saya bisa melakukan sesuatu dengan sangat cepat menggunakan AI daripada menelepon mereka untuk melakukannya di tengah malam, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup mereka, dan itulah yang mereka inginkan," tambahnya.

Pandangan optimistis ini muncul berlawanan dengan data mengkhawatirkan mengenai pengangguran muda di Inggris. Data terbaru dari Office for National Statistics per Mei 2026 menunjukkan lonjakan tajam kasus 'NEET' (tidak sekolah, tidak bekerja, tidak pelatihan) melebihi 1 juta orang selama empat bulan pertama tahun 2026.

Situasi pasar kerja di Inggris dan Amerika Serikat semakin kompetitif karena PHK marak dan perekrutan melambat, seringkali didorong oleh adopsi AI yang mengotomatisasi tugas level pemula. Namun, Bravo tampak tidak terlalu khawatir dengan potensi kerentanan pekerjaan junior ini.

"Untuk anak muda, AI akan sangat menakjubkan. Saya sangat-sangat sedih banyak orang mengatakan AI akan menghancurkan pekerjaan level junior," kata Bravo.