TREN.BISNISMARKET.COM - Pada perdagangan Selasa pagi, 23 Juni 2026, bursa saham di kawasan Asia menunjukkan dinamika pergerakan yang beragam. Hal ini terjadi seiring dengan meredanya kekhawatiran pasar global mengenai potensi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Investor global tampak mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah, menyusul adanya sinyal deeskalasi ketegangan antara kedua negara adidaya tersebut. Kondisi geopolitik yang mulai menenangkan ini turut memberikan efek positif pada pasar energi.

Pergerakan harga minyak dunia, yang sebelumnya sempat bergejolak akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah, kini mulai menunjukkan stabilitas. Pasar energi merespons positif kabar meredanya potensi konflik yang mengancam jalur distribusi minyak global.

Per pukul 08.42 WIB, beberapa indeks utama Asia masih mencatatkan kenaikan tipis. Indeks Hang Seng Hong Kong terpantau naik sebesar 0,13%, sementara ASX 200 Australia juga mencatatkan kenaikan 0,04%.

Namun, di sisi lain, beberapa bursa besar lainnya justru harus berada di zona merah. Indeks Shanghai Composite tercatat turun 0,23%, dan Nikkei 225 Jepang melemah 0,27% pada waktu yang sama.

Korea Selatan menjadi pasar yang paling terdampak negatif pada pagi itu, dengan indeks Kospi mengalami penurunan tajam hingga mencapai 2,05%. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen kehati-hatian investor masih sangat kuat di beberapa wilayah.

Sentimen pasar secara umum juga dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang kembali menguat setelah koreksi tajam di sesi sebelumnya. Pelaku pasar masih memantau ketat kondisi Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi global.

Meskipun ketegangan mereda, memberikan harapan bahwa pasokan minyak tidak akan terganggu signifikan, investor tetap bersikap waspada. Situasi geopolitik di kawasan tersebut dinilai masih rentan berubah sewaktu-waktu, sehingga sikap hati-hati tetap dipertahankan.

Pergerakan bursa Asia yang cenderung mixed menunjukkan bahwa pelaku pasar sedang menimbang dampak konflik AS-Iran di masa depan terhadap pertumbuhan ekonomi global serta potensi inflasi, terutama melalui jalur harga energi.