TREN.BISNISMARKET.COM - Sektor jasa pelayaran yang melayani industri minyak dan gas (migas) di Indonesia kini tengah menghadapi gelombang tantangan. Gejolak geopolitik global dan pelemahan nilai tukar Rupiah menjadi dua faktor utama yang memberikan tekanan signifikan pada bisnis ini.

Kondisi ini berdampak langsung pada biaya operasional perusahaan jasa migas. Mayoritas pengeluaran, termasuk untuk suku cadang, masih terikat dengan mata uang dolar Amerika Serikat.

Untuk meredam dampak negatif pelemahan Rupiah, pelaku industri jasa migas memiliki harapan besar terhadap kebijakan kontrak. Mereka berharap agar kontrak-kontrak migas tetap menggunakan mata uang dolar AS.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP) menunjukkan optimisme terhadap prospek bisnis pelayaran migas di tanah air. Optimisme ini sejalan dengan upaya pemerintah yang terus mendorong peningkatan produksi migas nasional.

Perusahaan melihat bahwa dukungan pemerintah dalam peningkatan produksi migas menjadi angin segar bagi kelangsungan dan pertumbuhan bisnis mereka. Hal ini membuka peluang bagi jasa pelayaran untuk kembali bergeliat.

"Biaya operasional bisnis jasa migas termasuk suku cadang mayoritas menggunakan mata uang dollar AS sehingga untuk menekan dampak pelemahan Rupiah industri berharap kontrak migas tetap dalam USD," ujar Sofwan Farisyi, Direktur Operasi Sillo Maritime Perdana.

Sofwan Farisyi juga menyampaikan pandangan positif perusahaan terhadap masa depan industri ini. "SHIP optimistis terhadap prospek bisnis pelayaran migas di Indonesia seiring dengan upaya pemerintah mendukung peningkatan produksi migas dalam negeri," katanya.

Pertanyaan mengenai strategi bisnis jasa pelayaran migas dalam menghadapi gejolak global dan pelemahan nilai tukar Rupiah menjadi fokus utama diskusi. Hal ini penting untuk dipahami agar industri dapat bertahan dan berkembang.

Pembahasan mendalam mengenai hal ini tersaji dalam dialog Andi Shalini dengan Direktur Operasi PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP), Sofwan Farisyi. Percakapan tersebut berlangsung dalam program Squawk Box di CNBC Indonesia pada hari Selasa, 21 Juli 2026.