TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia tengah mengkaji pembentukan sebuah badan khusus yang bertujuan utama untuk mengatasi praktik-praktik kecurangan dalam kegiatan ekspor nasional. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap kerugian signifikan yang dialami negara akibat manipulasi data ekspor.

Langkah strategis ini diharapkan dapat meminimalisir celah yang selama ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Fokus utama badan baru tersebut adalah menekan terjadinya praktik transfer pricing dan under-invoicing yang merugikan kas negara.

Hal ini menjadi perhatian serius pemerintah mengingat tingginya potensi penerimaan negara yang hilang akibat modus operandi tersebut. Manipulasi harga ekspor secara sengaja telah menggerogoti potensi devisa negara dalam jumlah yang sangat besar.

Mengenai isu kerugian negara ini, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) memberikan pernyataan tegas mengenai dampak buruk dari praktik tersebut. Beliau menyoroti bahwa devisa negara hilang hingga mencapai angka triliunan rupiah.

"Praktik curang seperti transfer pricing dan under-invoicing menyebabkan triliunan devisa negara hilang," ujar Wakil Menteri Pertanian. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi penanganan masalah ini secara terstruktur dan sistematis.

Pembentukan badan ekspor yang baru ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat pengawasan dan transparansi dalam rantai perdagangan internasional. Badan tersebut diharapkan memiliki otoritas lebih kuat dalam verifikasi data nilai ekspor.

Secara teknis, badan baru ini akan berfokus pada bagaimana cara (How) mengidentifikasi dan menghentikan modus transfer pricing. Ini termasuk sinkronisasi data antara eksportir, bea cukai, dan otoritas pajak terkait.

Adapun latar belakang (Why) pembentukan badan ini adalah untuk memastikan bahwa nilai ekspor yang dilaporkan sesuai dengan transaksi riil di pasar global. Hal ini penting demi menjaga kesehatan neraca perdagangan Indonesia secara berkelanjutan.

Pemerintah berharap dengan adanya badan pengawasan yang lebih terpusat ini, praktik manipulasi data yang selama ini sulit dideteksi dapat diminimalisir secara signifikan di masa mendatang.