TREN.BISNISMARKET.COM - Pasar modal Indonesia tengah mengalami pergeseran fokus, di mana investor global kini lebih menekankan pada kualitas fundamental perusahaan dalam mengambil keputusan investasi. Perubahan ini signifikan karena sebelumnya katalis utama sering kali bergantung pada euforia indeks saja.

Menurut seorang narasumber, fokus utama investor saat ini adalah pada kualitas fundamental, tata kelola perusahaan (governance), likuiditas, dan profitabilitas. Hal ini disampaikan kepada Kontan pada akhir pekan lalu, menyoroti standar baru dalam penilaian saham.

Reydi, salah satu analis yang dikutip, menyatakan bahwa jika MSCI Index masih dalam status freeze, saham-saham konglomerat tidak bisa lagi hanya mengandalkan sentimen indeks untuk bergerak naik. Oleh karena itu, diperlukan narasi pertumbuhan baru yang kuat untuk menarik minat investor.

"Seperti energi baru terbarukan, data center, kecerdasan buatan, hilirisasi, ekosistem kendaraan listrik, dan ekspansi bisnis yang benar-benar menghasilkan laba," ujar Reydi mengenai sektor-sektor yang kini menjadi katalis potensial.

Saat ini, investor cenderung lebih tertarik pada saham-saham bluechip konvensional yang menawarkan valuasi lebih murah dan memiliki rekam jejak fundamental yang terbukti solid. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saham-saham konglomerat besar.

Direktur Infovesta Utama, Parto Kawito, menjelaskan bahwa saham konglomerat yang sudah memiliki nama besar memang masih bisa bergerak hanya dengan sedikit pendorong. Namun, kondisi pasar kini berbeda dibandingkan periode sebelumnya.

"Namun, kata Parto, ada perubahan dari kondisi sebelumnya, yaitu free float dan konsentrasi kepemilikan tinggi," jelas Parto mengenai tantangan struktural yang dihadapi saham konglomerat saat ini.

Parto menambahkan bahwa saham konglomerat yang masih perlu memenuhi ketentuan free float kemungkinan akan menahan diri sambil menunggu terpenuhinya syarat tersebut. Selain itu, peningkatan free float juga dapat membuat penguatan harga saham menjadi tidak sekuat dulu.

"Selain itu dengan bertambahnya free float akan relatif lebih sulit mengangkat harga sahamnya. Jadi saham konglomerat masih bisa, tetapi tidak signifikan seperti sebelumnya," jelas Parto Kawito mengenai dampak free float terhadap pergerakan harga.