TREN.BISNISMARKET.COM - Kinerja saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menunjukkan tekanan pasar yang luar biasa sepanjang tahun 2026. Emiten yang bergerak di sektor pertambangan batu bara ini menghadapi penurunan harga yang sangat drastis dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Penurunan tajam ini menjadikan saham DSSA kehilangan sebagian besar nilainya secara signifikan. Data menunjukkan bahwa emiten komoditas ini pernah meraih predikat sebagai salah satu saham termahal di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Kondisi pasar saat ini sangat kontras dengan kejayaan masa lalu, di mana saham DSSA sempat menyentuh harga fantastis mencapai Rp290.000 per lembar saham. Penurunan nilai yang drastis ini menyebabkan kapitalisasi pasar perusahaan mengalami penyusutan masif akibat koreksi yang terjadi secara berturut-turut.
Menurut informasi yang tersedia, "saham DSSA mencatatkan penurunan tajam sebesar 76,24% dalam sebulan," Dikutip dari Investor Daily. Angka ini menggarisbawahi kedalaman koreksi yang dialami oleh saham perusahaan batu bara tersebut.
Saat ini, harga saham DSSA telah merosot hingga menembus level psikologis di bawah Rp500 per lembar. Kemerosotan ini terus berlanjut, menambah tekanan negatif pada performa saham perusahaan di bursa.
Pada penutupan perdagangan hari Senin, 25 Mei 2026, saham DSSA kembali menunjukkan pelemahan. Nilai saham tersebut diketahui melemah sebesar 11,93% pada sesi penutupan tersebut.
Posisi akhir saham DSSA pada penutupan Senin (25/5/2026) tercatat berada di level Rp480 per lembar saham. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari perdagangan sebelumnya.
Koreksi yang terjadi pada awal pekan tersebut semakin memperburuk akumulasi performa negatif saham DSSA secara keseluruhan. Secara akumulasi sejak awal tahun 2026 atau secara year to date (ytd), total kemerosotan harga saham emiten batu bara ini telah menembus angka 88,12%.
Informasi mengenai pergerakan harga saham ini dipublikasikan pertama kali pada 26 Mei 2026 pukul 09:04 WIB oleh Aditya Rachman. Pergerakan harga saham ini menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar modal di Indonesia.