TREN.BISNISMARKET.COM - Kondisi pasar properti di Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik, terutama pada segmen rumah sekunder. Meskipun nilai tukar Rupiah terus melemah hingga menyentuh level Rp17.528 per dolar AS, harga rumah bekas (sekunder) justru masih mencatatkan pertumbuhan signifikan.

Fenomena kenaikan harga ini terjadi di tengah tekanan makroekonomi yang memengaruhi sektor properti secara nasional. Data menunjukkan bahwa sebanyak 11 kota di Indonesia berhasil mempertahankan tren kenaikan harga rumah sekunder secara tahunan hingga April 2026.

Hal ini terungkap dari hasil survei dalam Flash Report Mei 2026 by Rumah123. Secara agregat, harga rumah sekunder nasional mengalami kenaikan tipis sebesar 0,1 persen dalam basis bulanan.

Sementara itu, jika dilihat dalam rentang waktu tahunan, pertumbuhan harga rumah sekunder mencapai 0,8 persen pada periode yang sama di April 2026. Pertumbuhan ini menandakan adanya ketahanan di segmen properti bekas.

Kota yang memimpin kenaikan harga secara tahunan adalah Denpasar, yang mencatatkan lonjakan impresif sebesar 2 persen. Angka ini menunjukkan tingginya permintaan atau terbatasnya suplai di pasar properti Denpasar.

"Kenaikan harga tertinggi terjadi di Denpasar sebesar 2 persen, disusul Bogor 1,8 persen dan Surakarta 1,5 persen secara year-on-year," demikian hasil temuan tersebut.

Menariknya, tren kenaikan harga properti sekunder ini kontras dengan kondisi yang dihadapi oleh sektor properti primer. Properti baru atau primer justru menunjukkan perlambatan pertumbuhan yang cukup dalam selama periode tersebut.

Bank Indonesia sebelumnya telah merilis data yang mengonfirmasi pelemahan ini, mencatat perlambatan signifikan dalam penjualan properti residensial primer. Penjualan properti primer pada kuartal I-2026 dilaporkan mengalami kontraksi sebesar 25,67 persen secara tahunan.

Kenaikan harga di segmen sekunder saat primer melambat mengindikasikan pergeseran minat konsumen atau potensi penahanan unit oleh pemilik properti lama. Hal ini perlu dianalisis lebih lanjut untuk memahami pergerakan investasi di pasar properti Indonesia.