TREN.BISNISMARKET.COM - Sektor perbankan di Indonesia diperkirakan akan menghadapi tantangan berat dalam beberapa tahun ke depan seiring dengan penyesuaian proyeksi pertumbuhan. Samuel Sekuritas baru-baru ini merevisi outlook industri keuangan ini dengan sikap yang lebih konservatif.
Langkah ini diambil menyusul adanya tekanan makroekonomi yang dinilai dapat menghambat laju profitabilitas perbankan nasional. Tekanan tersebut terutama bersumber dari ketidakpastian moneter global dan domestik yang masih membayangi pasar keuangan saat ini.
"Kami memutuskan untuk memangkas proyeksi pertumbuhan laba bersih industri perbankan untuk tahun 2026 menjadi hanya sebesar 1,8 persen, turun signifikan dari perkiraan sebelumnya yang berada di angka 4,6 persen," ujar analis Samuel Sekuritas.
Penurunan target pertumbuhan ini didorong oleh biaya dana (cost of fund) yang diperkirakan tetap tinggi dalam jangka menengah. Kondisi tersebut diperparah oleh fluktuasi nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.
"Tingginya suku bunga acuan yang bertahan lama serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang mendongkrak biaya dana perbankan saat ini," kata lembaga riset tersebut.
Akibat kenaikan biaya dana tersebut, margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) perbankan diproyeksikan akan mengalami penyusutan. Situasi ini membuat para pelaku pasar kini cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di saham-saham perbankan.
"Melihat dinamika yang ada, kami memberikan rekomendasi netral untuk sektor perbankan karena ruang pertumbuhan yang cenderung melandai," jelas pihak Samuel Sekuritas.
Dikutip dari Samuel Sekuritas, analisis mendalam ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi para investor dalam menyusun strategi portofolio di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sektor perbankan kini dituntut untuk lebih efisien dalam mengelola likuiditas guna menjaga kinerja keuangan tetap stabil.