TREN.BISNISMARKET.COM - Proyek Raksasa Gas Abadi Blok Masela, yang telah tertunda selama hampir tiga dekade, akhirnya memasuki fase pembangunan. Peresmian peletakan batu pertama (groundbreaking) dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Kamis, 16 Juli 2026.
Acara ini menandai dimulainya tahap konstruksi untuk salah satu proyek gas terbesar di Asia Pasifik. Pemerintah melihat momen ini sebagai langkah maju signifikan setelah penantian panjang yang penuh tantangan.
Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya kelancaran proyek ini, menyatakan bahwa pembangunan harus segera diselesaikan. "Alhamdulillah, hari ini kita mulai pembangunan dan pembangunan tidak boleh terhambat. Harus selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya," ujar Prabowo.
Penundaan proyek ini disebabkan oleh berbagai faktor sejak penemuannya di akhir tahun 1998. Perubahan desain pengembangan, pergantian mitra, serta negosiasi bisnis yang memakan waktu menjadi kendala utama.
Kini, di bawah operator Inpex Corporation melalui Inpex Masela Ltd., proyek ini bergerak maju setelah desain rekayasa terinci (FEED) dimulai pada September 2025. Target produksi perdana ditetapkan antara tahun 2029 hingga 2030.
Proyek LNG Abadi ini merupakan salah satu investasi energi terbesar di Indonesia, dengan total perkiraan investasi mencapai US$20,9 miliar atau sekitar Rp376 triliun. Kapasitas produksi yang direncanakan adalah 9,5 juta ton LNG per tahun, ditambah gas pipa dan kondensat.
Konsorsium pengelola proyek ini terdiri dari Inpex Masela Ltd. sebagai operator dengan kepemilikan 65%, PT Pertamina Hulu Energi Masela 20%, dan Petronas Masela Sdn. Bhd. 15%.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memperkirakan dampak ekonomi proyek ini sangat besar, mencapai US$137,8 miliar bagi perekonomian nasional. Kontribusi terhadap PDRB Provinsi Maluku diproyeksikan US$95 miliar dan Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebesar US$92 miliar.
Bahlil menambahkan, "Pertumbuhan ekonomi oleh kontribusi dari PDB nasional sekitar US$137,8 miliar serta peningkatan PDRB Provinsi Maluku sebesar US$95 miliar dan PDRB Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebesar US$92 miliar."