TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia kini dihadapkan pada sebuah refleksi penting dari perjalanan panjang Proyek LNG Abadi di Blok Masela. Keterlambatan yang dialami proyek strategis ini menjadi pelajaran berharga dalam merumuskan pendekatan kebijakan pengembangan proyek-proyek migas jumbo di masa depan agar tidak terulang.
Proyek yang dikembangkan oleh Inpex Corporation di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, akhirnya mencapai tonggak sejarah baru dengan peresmian groundbreaking pada Kamis, 16 Juli 2026. Peresmian ini menandai kemajuan signifikan setelah proyek tersebut tertahan dan mangkrak selama 28 tahun terakhir.
Hadi Ismoyo, seorang praktisi di industri migas, memberikan apresiasi atas kemajuan terbaru yang dicapai oleh Inpex. Beliau menilai bahwa terbukanya jalan menuju tahap pengembangan proyek ini memberikan angin segar dan harapan baru bagi salah satu cadangan gas terbesar di Indonesia.
Pengalaman Masela, menurut Hadi, menyisakan sebuah pelajaran krusial mengenai peran pemerintah dalam pengambilan keputusan teknis pada proyek hulu migas. Intervensi yang terlalu dalam terhadap rencana pengembangan atau Plan of Development (PoD) dinilai justru menjadi kontributor utama tertundanya proyek dan hilangnya momentum investasi yang berharga.
Ia secara spesifik menyoroti perubahan skenario PoD yang terjadi pada tahun 2017 sebagai salah satu faktor krusial yang memperlambat laju pengembangan Proyek Masela dari rencana awal yang telah ditetapkan.
"Pelajaran yang bisa diambil adalah agar pemerintah tidak melakukan intervensi secara berlebihan terhadap keputusan PoD yang telah dirumuskan oleh para ahli. Intervensi yang terjadi pada tahun 2017 lalu mengakibatkan proyek mengalami penundaan dan kehilangan momentum," ujar Hadi.
Menurut pandangan Hadi, akselerasi Final Investment Decision (FID) kini sangat bergantung pada penyelesaian Gas Sales Agreement (GSA) antara pengelola Blok Masela dan para calon pembeli gas. Kepastian pasar menjadi kunci utama yang akan membawa proyek ini melangkah ke tahap konstruksi.
Hadi menjelaskan bahwa apabila kesepakatan penjualan gas dapat segera diselesaikan, dan FID dapat dicapai pada tahun ini, maka proses Engineering, Procurement, Construction, and Installation (EPCI) dapat segera ditenderkan.
Dengan estimasi tersebut, proyek ini diperkirakan akan membutuhkan waktu konstruksi sekitar 36 bulan sebelum akhirnya dapat beroperasi secara komersial pada tahun 2030.