TREN.BISNISMARKET.COM - Prospek harga minyak dunia menunjukkan potensi penurunan signifikan pada paruh kedua tahun 2026. Kondisi ini sangat bergantung pada perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran terkait perpanjangan gencatan senjata yang dikabarkan akan terjadi.

Apa yang menjadi pemicu utama prediksi ini adalah kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi vital yang sempat terancam oleh ketegangan regional. Pembukaan jalur ini dinilai akan mengurangi risiko gangguan pasokan energi global yang selama ini mendorong kenaikan harga minyak dalam beberapa bulan terakhir.

Siapa yang menyampaikan pandangan ini? Paul Gamble, Senior Director, Head of Middle East & Africa Sovereigns Fitch Ratings, memberikan analisis mendalam mengenai dampak potensi pembukaan kembali selat strategis tersebut.

Kapan tekanan harga ini diprediksi terjadi? Fitch Ratings memperkirakan tekanan penurunan harga baru akan terasa kuat pada paruh kedua tahun 2026. Mereka memproyeksikan harga rata-rata Brent akan mencapai US$70 per barel pada kuartal IV-2026, dengan rata-rata tahunan US$87 per barel sepanjang 2026.

Di mana dampak utama pembukaan ini dirasakan? Dampak terbesar akan terjadi di pasar minyak global, di mana Fitch memperkirakan kondisi kelebihan pasokan (oversupply) akan terjadi dalam waktu sekitar satu bulan setelah Selat Hormuz dibuka penuh.

Mengapa pembukaan Selat Hormuz begitu krusial? Pembukaan kembali jalur tersebut akan memungkinkan pemulihan cepat produksi minyak dari kawasan Timur Tengah ke tingkat normal dalam beberapa pekan. Ini akan diikuti dengan normalisasi lalu lintas maritim melalui jalur strategis tersebut.

Bagaimana Fitch melihat risiko saat ini? Meskipun ada potensi pembukaan, Fitch tetap menilai risiko ketidakstabilan masih tinggi, namun pembukaan parsial saja sudah cukup memberikan dampak signifikan. "Kami masih melihat risiko tinggi bahwa selat tersebut tidak akan segera dibuka atau bahwa situasinya tetap tidak stabil. Namun, bahkan pembukaan sementara Hormuz akan secara signifikan mengurangi risiko kredit yang lebih ekstrem yang ditimbulkan oleh konflik tersebut," ujar Gamble dalam analisisnya.

Fitch juga mencatat bahwa tidak ada kerusakan material yang berarti pada infrastruktur minyak regional akibat konflik yang terjadi. Hal ini mendukung prediksi pemulihan produksi yang cepat.

Faktor lain yang memperkuat tekanan penurunan harga adalah potensi peningkatan produksi dari negara-negara non-OPEC serta kemungkinan negara OPEC meningkatkan produksinya mendekati kapasitas maksimum mereka. "Dengan pembukaan kembali Hormuz yang lebih awal, risiko terhadap proyeksi US$87 per barel untuk 2026 cenderung mengarah pada penurunan," kata Gamble.