TREN.BISNISMARKET.COM - Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) kini dinilai sebagai langkah strategis penting dalam upaya memperkuat tata kelola Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang berasal dari komoditas sumber daya alam (SDA) Indonesia. Entitas baru ini diharapkan dapat meningkatkan aliran devisa kembali ke dalam negeri secara signifikan.

Tujuan utama dari pembentukan DSI adalah untuk memperkuat ketahanan nilai tukar mata uang rupiah di tengah fluktuasi ekonomi global saat ini. Penguatan pengelolaan ini diharapkan memberikan dampak positif langsung pada perekonomian domestik.

Pengamat Pasar Modal, Fendi Susiyanto, menyoroti bahwa penguatan tata kelola ekspor melalui DSI sangat relevan mengingat masih rendahnya transparansi dalam transaksi ekspor komoditas SDA. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya eksportir yang memiliki perusahaan afiliasi di luar negeri.

"Jika DSI mampu melakukan pemantauan dan menertibkan transaksi ekspor melalui mekanisme satu pintu, rasanya akan banyak dampak positif yang bisa dinikmati pemerintah dan rakyat Indonesia dari sumber daya alamnya ini," ujar Fendi, dikutip Bisnis, Selasa (16/6/2026).

Fendi Susiyanto mengemukakan bahwa potensi terbesar yang dapat dioptimalkan oleh DSI adalah pengelolaan DHE dari komoditas-komoditas strategis Indonesia. Selama ini, pemerintah menghadapi tantangan besar dalam mendorong hasil transaksi ekspor tersebut agar masuk kembali ke sistem perbankan nasional.

Indonesia merupakan salah satu eksportir utama komoditas strategis dunia, di mana sektor sumber daya alam menyumbang sekitar 60% dari total ekspor nasional, berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kontribusi ini menunjukkan betapa vitalnya pengelolaan DHE tersebut.

Tiga komoditas terbesar penyumbang ekspor SDA meliputi batu bara dengan porsi sekitar 8,65%, minyak sawit mentah atau CPO sebesar 8,63%, serta ferro alloy atau paduan besi sekitar 5,82%. Nilai ekspor ketiga komoditas ini pada tahun 2024 secara kumulatif mencapai US$72,05 miliar.

Menurut Fendi, besarnya nilai ekspor tersebut seharusnya dapat memberikan manfaat ekonomi yang jauh lebih besar bagi Indonesia jika pengelolaan devisanya dilakukan secara optimal. "Sebagai produsen CPO terbesar di dunia, seharusnya Indonesia memiliki peran yang lebih besar dalam perdagangan CPO internasional, baik dari sisi harga maupun volume," sebutnya.

Optimalisasi DHE ini juga akan berkontribusi pada penguatan posisi Bank Indonesia dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Meskipun pemerintah telah mengeluarkan berbagai regulasi untuk meningkatkan penempatan DHE di dalam negeri, hasilnya belum sepenuhnya tercermin pada peningkatan cadangan devisa.