TREN.BISNISMARKET.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan menghadapi periode volatilitas yang signifikan pada perdagangan hari Jumat, 22 Mei 2026. Proyeksi ini muncul setelah indeks mengalami penurunan drastis sebesar 3,54 persen, ditutup pada level 6.094,941 pada penutupan hari Kamis kemarin.
Kondisi pasar ekuitas domestik saat ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan internal yang kompleks. Faktor-faktor tersebut meliputi fluktuasi nilai tukar Rupiah, pergerakan arus modal investor asing, serta ketegangan geopolitik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran.
Selain itu, respons pasar terhadap implementasi kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam negeri juga menjadi variabel penting yang menentukan arah pergerakan indeks. Investor kini tengah mencermati bagaimana sentimen pasar merespons kebijakan tersebut.
Hendra Wardana, selaku Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor, memberikan pandangan mengenai potensi pelemahan lebih lanjut. Ia menjelaskan bahwa indeks berisiko menguji kembali level support krusial di angka 6.000.
"Indeks berisiko kembali menguji area support di level 6.000 apabila pelemahan rupiah terus berlanjut disertai aksi jual oleh pemodal asing," ujar Hendra kepada Kompas.com, Kamis malam (21/5/2926).
Meskipun demikian, Hendra melihat bahwa penurunan tajam yang terjadi dalam beberapa hari terakhir justru membuka peluang untuk pembalikan arah atau technical rebound dalam jangka pendek. Peluang ini bisa terwujud jika terjadi aksi beli kembali (bargain hunting) pada saham-saham kapitalisasi besar (big caps) yang kini sudah berada dalam kondisi oversold.
"Terutama apabila muncul aksi bargain hunting pada saham-saham big caps yang saat ini sudah berada pada kondisi oversold," ujar Hendra.
Faktor global lain yang turut menjadi perhatian pelaku pasar adalah stabilitas harga minyak mentah dunia dan pergerakan yield obligasi Amerika Serikat. Kedua indikator ini sangat memengaruhi arus modal global yang masuk menuju pasar negara berkembang.
Investor ritel disarankan untuk memprioritaskan pencermatan saham dari sektor defensif yang memiliki fundamental kuat. Saham-saham tersebut dinilai lebih tangguh untuk menghadapi tekanan pasar yang berasal dari faktor eksternal.