TREN.BISNISMARKET.COM - Ancaman keamanan siber yang bersumber dari perkembangan Kecerdasan Buatan (AI) semakin nyata, mendorong pusat-pusat keuangan global untuk mengambil langkah antisipatif. Hong Kong, salah satu pusat keuangan penting di kawasan Asia, telah menyatakan kesiapsiagaan penuh dalam menghadapi potensi kerentanan baru ini.

Komisi Sekuritas dan Berjangka Hong Kong (SFC) mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh perusahaan di bawah lisensinya untuk segera mengimplementasikan langkah-langkah pengamanan siber terkini. Peringatan ini terutama ditujukan kepada para pialang internet dan platform yang menangani perdagangan aset virtual.

Tujuan utama dari peningkatan pengamanan ini adalah untuk memastikan tidak ada akses ilegal terhadap data milik klien. Selain itu, langkah ini diharapkan dapat melindungi integritas praktik perdagangan dan mencegah potensi penyalahgunaan aset yang mungkin terjadi melalui celah keamanan.

Regulator setempat menilai bahwa kemampuan AI dapat dimanfaatkan oleh pihak jahat untuk mengidentifikasi kerentanan sistem dengan kecepatan tinggi. Hal ini memungkinkan pelaku kejahatan melancarkan serangan dalam skala yang jauh lebih besar, sekaligus mempermudah taktik penipuan seperti phishing dan rekayasa sosial.

"Regulator setempat berpendapat AI dapat membantu pelaku melakukan identifikasi dan mengeksploitasi kerentanan lebih cepat. Termasuk melancarkan serangan pada skala besar serta menurunkan hambatan pada modus phishing serta rekayasa sosial," Dikutip dari Reuters, Jumat (19/6/2026).

Area-area spesifik yang memerlukan penguatan keamanan siber juga telah diidentifikasi oleh otoritas Hong Kong. Area tersebut mencakup lokasi strategis untuk proses penambalan celah keamanan (patching), manajemen kerentanan, sistem deteksi dan pemantauan, hingga prosedur respons dan pemulihan insiden.

Peningkatan insiden serangan siber di wilayah tersebut menjadi latar belakang utama kewaspadaan ini, mengingat adanya tren kenaikan yang signifikan. Data dari Pusat Koordinasi Tim Tanggap Darurat Komputer Hong Kong menunjukkan bahwa pada tahun 2024 tercatat 12.536 kasus, yang kemudian melonjak 27% menjadi 15.877 kasus pada tahun berikutnya.

Kekhawatiran mengenai kerentanan keamanan yang dipicu oleh AI ini tidak hanya menjadi perhatian Hong Kong semata, melainkan juga telah menarik fokus regulator di seluruh dunia. Sorotan ini menguat setelah munculnya kerentanan keamanan yang melibatkan model AI bernama Mythos dari perusahaan Anthropic.

Model Mythos tersebut dilaporkan mampu membongkar ribuan celah keamanan pada sistem operator dan peramban web utama yang banyak digunakan. Anthropic sendiri telah mengakui bahwa penyalahgunaan model AI mereka berpotensi menimbulkan risiko serius terhadap perekonomian, keselamatan publik, dan keamanan nasional.