TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah kabar gembira datang dari sektor investasi manufaktur di Jawa Tengah, seiring rencana ekspansi perusahaan fesyen global asal Korea Selatan. Perusahaan yang dikenal bergerak di bidang produk berbahan kulit ini memutuskan untuk menanamkan modal besar di Indonesia.

Perusahaan tersebut bernama Simone, yang kini akan mendirikan entitas baru di Indonesia bernama PT Simone Batang Indonesia. Langkah ini menandai komitmen serius mereka untuk memperluas jejak produksi di kawasan Asia Tenggara.

Lokasi strategis yang dipilih untuk pembangunan fasilitas produksi ini adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi ini diharapkan dapat memberikan keuntungan logistik dan kemudahan berusaha bagi perusahaan.

Keputusan investasi ini secara resmi ditandai dengan dilakukannya penandatanganan dokumen penting. Perjanjian tersebut adalah Perjanjian Pemanfaatan Tanah Industri (PPTI) yang menjadi landasan hukum operasional pabrik.

Proses penandatanganan ini berlangsung pada hari Rabu (6/5) kemarin di Ballroom Management Office KEK Industropolis Batang. Momen ini menjadi penanda dimulainya babak baru kolaborasi antara investor Korsel dan pemerintah daerah setempat.

Adapun penandatanganan dilakukan oleh dua pihak yang berkepentingan langsung dalam proyek ini. Pihak pengelola KEK diwakili oleh Direktur Pemasaran & Pengembangan KEK Industropolis Batang, Indri Septa Respati.

Sementara itu, dari pihak investor, penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama PT Simone Batang Indonesia, Kim Jung Shik. "Komitmen investasi ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Pemanfaatan Tanah Industri (PPTI) yang dilakukan oleh Direktur Pemasaran & Pengembangan KEK Industropolis Batang, Indri Septa Respati, dan Direktur Utama PT Simone Batang Indonesia, Kim Jung Shik pada Rabu (6/5) kemarin di Ballroom Management Office KEK Industropolis Batang," ujar perwakilan manajemen.

Total nilai investasi yang digelontorkan oleh PT Simone Batang Indonesia untuk proyek ini mencapai angka fantastis, yakni mencapai Rp 429 miliar. Dana tersebut akan dialokasikan untuk pembangunan fasilitas produksi berskala besar.

Fasilitas produksi yang akan dibangun ini dirancang dengan orientasi utama untuk kegiatan ekspor ke pasar internasional. Pabrik tersebut akan berdiri di atas lahan seluas 8,28 hektare di dalam kawasan industri tersebut.