TREN.BISNISMARKET.COM - Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate secara mendadak menuai respons dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika ekonomi global yang masih bergejolak.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan apresiasi atas langkah strategis yang diambil oleh Bank Indonesia tersebut. OJK memandang penting setiap upaya yang dilakukan untuk mengamankan fundamental mata uang domestik.

OJK, sebagai salah satu pilar dalam Komite Stabilisasi Sistem Keuangan (KSSK), menjalankan tugasnya dengan berkoordinasi erat bersama BI, Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Koordinasi ini bertujuan untuk memantau secara komprehensif situasi ekonomi terkini.

"Kita melakukan assessment terus tapi kalau misalnya tadi kita terus melakukan mencermati terhadap bagaimana ketahanan sektor jasa keuangan kita," tutur Kiki saat ditemui di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Selasa (9/6/2026).

Fokus utama pengawasan OJK pasca kenaikan suku bunga adalah sektor perbankan. Secara spesifik, pengawasan akan diperketat pada bank-bank yang memiliki eksposur signifikan terhadap fluktuasi pergerakan nilai tukar mata uang.

Selain perbankan, OJK juga melakukan pemantauan lintas sektor keuangan lainnya. Hal ini mencakup bagaimana kenaikan suku bunga dan pergerakan nilai tukar memengaruhi sektor pasar modal dan lembaga keuangan lainnya.

Kiki menegaskan bahwa hingga saat ini, kondisi sektor jasa keuangan di Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik. Meskipun demikian, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan.

"Dan sampai saat ini kita melihat bahwa kondisi sektor jasa keuangan kita masih terjaga Jadi tapi terus tentu saja kita tidak lengah dan terus mencermati berbagai perkembangan yang ada," pungkas Kiki.

Ia juga menyampaikan harapan agar kondisi perekonomian nasional dapat segera membaik. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan global seperti situasi geopolitik, termasuk perang di Timur Tengah, masih menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai bersama.