TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah inovasi mengejutkan muncul di lanskap teknologi global, di mana sebuah perusahaan rintisan meluncurkan layanan komersial unik yang memungkinkan kecerdasan buatan (AI) menyewa tubuh manusia. Layanan ini bertujuan menjembatani kesenjangan antara kemampuan program komputer di dunia siber dan kebutuhan eksekusi tugas di dunia nyata.

Platform digital yang menjadi wadah layanan ini dikenal sebagai RentAHuman.ai, sebuah inisiatif yang diprakarsai oleh Alexander Liteplo. Melalui platform ini, agen AI terintegrasi dapat mencari, memesan, hingga membayarkan upah kepada manusia untuk melaksanakan aktivitas fisik yang mustahil dilakukan secara virtual.

Menurut penjelasan sang inisiator, platform ini dirancang agar sistem AI dapat memproses kebutuhan mulai dari pencarian informasi hingga pembayaran kompensasi bagi pekerja manusia. Ini membuka dimensi baru dalam pemanfaatan tenaga kerja berbasis kebutuhan spesifik AI.

Peluncuran resmi platform ini dilaksanakan pada Senin (2/2/2026), di mana Liteplo mengklaim bahwa pada tahap awal sudah ada lebih dari 130 individu yang mendaftarkan diri. Para pendaftar ini memiliki latar belakang yang sangat beragam, mulai dari profesi santai hingga posisi eksekutif tingkat tinggi.

Menunjukkan tingginya minat publik, hanya dalam kurun waktu dua hari, jumlah pendaftar melonjak drastis hingga mencapai 73.000 orang. Namun, pada saat itu, hanya 83 profil yang terlihat aktif dan dapat diakses pada laman pencarian di situs web layanan tersebut.

Perkembangan jumlah pendaftar terus menunjukkan tren kenaikan signifikan; hingga hari ini, Minggu (21/6/2026), tercatat sudah ada 760.845 orang yang siap disewakan oleh sistem kecerdasan buatan. Pertumbuhan ini mengindikasikan adaptasi cepat masyarakat terhadap model kerja baru ini.

Liteplo menyatakan keyakinannya mengenai potensi besar startup ini, dengan premis dasar bahwa "robot butuh tubuh manusia." Individu yang tertarik cukup mengisi profil rinci mencakup lokasi, keahlian spesifik, serta menentukan tarif jasa mereka per jam.

Proses kerjanya melibatkan bot otonom yang secara spesifik menghubungi individu berdasarkan kebutuhan tugas yang diajukan oleh agen AI. Setelah instruksi diberikan dan bukti penyelesaian tugas diterima, bayaran akan ditransfer kepada pekerja manusia dalam bentuk aset kripto.

"Robot butuh tubuh manusia," ujar Alexander Liteplo, menekankan kebutuhan fundamental akan interaksi fisik dalam ekosistem AI yang semakin berkembang.