TREN.BISNISMARKET.COM - Kekhawatiran pasar mengenai struktur baru dalam tata kelola ekspor komoditas telah menjadi pemicu utama koreksi tajam yang dialami oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tekanan jual masif ini membuat IHSG terperosok lebih dari 3,3 persen pada penutupan sesi perdagangan tertentu.

Isu sensitif yang beredar di kalangan pelaku pasar ini disebut-sebut sebagai faktor dominan yang menyebabkan indeks saham mengalami pelemahan signifikan secara berturut-turut selama dua hari terakhir. Sentimen negatif ini sangat kuat mempengaruhi psikologi investor di bursa.

Kabar yang menyebar luas menyebutkan bahwa pemerintah berencana mengumumkan pembentukan sebuah badan khusus yang akan memegang kendali penuh atas aktivitas ekspor komoditas nasional dalam waktu dekat. Tujuan utama dari badan baru ini adalah untuk memangkas praktik under invoicing yang selama ini merugikan negara.

Lembaga yang diwacanakan ini diharapkan akan bertindak sebagai pintu utama sekaligus agregator tunggal untuk seluruh kegiatan ekspor nasional dari sektor sumber daya alam (SDA). Skema yang dibayangkan adalah semua perusahaan SDA wajib menjual produknya melalui badan tersebut sebelum produk tersebut dikirim ke pasar internasional.

Dilansir dari Investortrust, sektor yang diperkirakan akan menjadi prioritas pertama yang masuk dalam sistem agregasi baru ini adalah crude palm oil (CPO) dan batu bara. Sementara itu, komoditas mineral disebutkan masih dalam tahap evaluasi mendalam sebelum dimasukkan dalam mekanisme yang sama.

Pemberlakuan model agregator ini menimbulkan kekhawatiran signifikan di kalangan emiten, terutama karena berpotensi menimbulkan beban biaya atau pungutan fee tambahan bagi perusahaan eksportir di sektor pertambangan dan komoditas. Beban biaya baru ini dapat menggerus margin keuntungan mereka.

Pemerintah sendiri, seperti yang terungkap dalam diskusi internal, dilaporkan sedang mempertimbangkan dua skenario kelembagaan untuk menaungi badan ekspor ini: apakah ditempatkan di bawah naungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau dikelola oleh Danantara. Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh otoritas terkait mengenai kebenaran rencana ini.

Sentimen negatif yang dipicu rumor ini terbukti berdampak serius pada kinerja bursa, terlihat dari penurunan IHSG hingga lebih dari 16,3 persen dalam kurun waktu sebulan terakhir, serta pelemahan 8,2 persen dalam lima hari perdagangan terakhir.

Pada perdagangan hari Selasa, 19 Mei 2026, koreksi mendalam terlihat jelas ketika IHSG mendadak anjlok sebesar 202,97 poin atau 3,08 persen hingga mencapai level 6.396 pada penutupan sesi pertama.