TREN.BISNISMARKET.COM - Ketegangan di Timur Tengah memicu eskalasi konflik yang meluas hingga ranah siber, di mana Iran secara signifikan meningkatkan upaya serangan digitalnya terhadap Israel. Peningkatan intensitas ini merupakan bagian dari respons berkelanjutan setelah adanya serangan gabungan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada Februari 2026.
Seorang pejabat senior keamanan Israel mengonfirmasi bahwa lonjakan serangan siber dari pihak Iran telah terjadi secara signifikan sejak dimulainya konflik baru di kawasan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa perang tidak hanya berlangsung di medan fisik, tetapi juga secara senyap merambah ruang maya Israel.
Direktur Jenderal Direktorat Siber Nasional Israel, Yossi Karadi, membeberkan data spesifik mengenai peningkatan ancaman ini kepada media Jerman, Die Welt. Pengungkapan ini memberikan gambaran tentang skala tantangan keamanan digital yang dihadapi Israel saat ini.
Karadi menyebutkan bahwa pada Juni 2026, ketika Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran, tercatat sebanyak 1.600 insiden siber yang berhasil dideteksi oleh sistem keamanan negara. Angka ini menjadi patokan awal perbandingan serangan.
Namun, pada periode Juni yang sama di tahun berikutnya (2026), jumlah insiden siber yang terdeteksi melonjak hampir tiga kali lipat menjadi 4.800 kasus. Peningkatan masif ini mengindikasikan bahwa Iran mengalihkan fokus serangan mereka secara signifikan ke ranah digital.
"Beberapa kelompok [peretas Iran] sangat terampil. Kami bisa menanggulanginya, tetapi kami harus mengatasinya dengan sangat serius. Tidak seperti di arena perang fisik, tak ada gencatan senjata di ruang maya," kata Karadi, dikutip dari Reuters, Senin (29/6/2026), berdasarkan wawancara dengan Die Welt.
Lebih lanjut, Karadi menjelaskan bahwa serangan siber yang datang dari dalam Israel tersebut menargetkan berbagai sektor penting dalam tata kelola negara. Target utama serangan ini meliputi sistem infrastruktur kritis, lembaga-lembaga sentral pemerintahan, serta perusahaan berskala kecil hingga menengah.
Selain infrastruktur vital, terdapat pula serangan dengan intensitas yang tidak terlalu besar namun terus menerus diarahkan kepada perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor hukum maupun firma akuntansi. Ini menunjukkan upaya untuk mengganggu fungsi sipil dan ekonomi secara luas.
Meskipun demikian, Karadi menegaskan bahwa upaya pertahanan siber Israel sejauh ini berhasil menjaga aset-aset paling vital tetap aman dari gangguan fatal. "Sejauh ini, kami bisa menanggulangi serangan-serangan ke infrastruktur kritis," kata dia.