TREN.BISNISMARKET.COM - Pasca penindakan besar-besaran terhadap markas penipuan daring di Kamboja, praktik kejahatan siber tidak serta-merta berakhir, melainkan mengalami pergeseran lokasi operasional. Menurut informasi terbaru, beberapa sindikat mafia penipuan kini dilaporkan telah memindahkan basis mereka ke berbagai resor pantai dan gedung perkantoran di Sri Lanka.

Kepindahan strategis ini didorong oleh beberapa faktor penarik yang dimiliki Sri Lanka, termasuk kebijakan visa perjalanan gratis bagi banyak negara. Selain itu, ketersediaan properti yang sesuai untuk dijadikan markas, jaringan telekomunikasi yang relatif mumpuni, serta kemudahan sistem transfer uang informal turut memicu keputusan para penipu.

Penyidik menilai Sri Lanka menawarkan lokasi yang sangat strategis untuk melanjutkan operasi penipuan daring skala besar. Menanggapi hal ini, otoritas Sri Lanka tidak tinggal diam dan telah mengambil langkah antisipatif untuk membendung gelombang kejahatan baru ini.

Pemerintah Sri Lanka telah membentuk unit khusus untuk menangani kejahatan siber dan dilaporkan telah melakukan penangkapan terhadap lebih dari 1.000 pelaku sepanjang tahun 2026. Sebagian besar penangkapan tersebut terpusat di ibu kota negara, Kolombo, sebagaimana dikutip dari Strait Times.

"Polisi bersama pihak imigrasi dan bank sentral berkoordinasi untuk mengontrol hal ini," ujar Asisten Kepala Kepolisian Fredrick Wootler.

Meskipun telah ada penangkapan masif, penegakan hukum di Sri Lanka masih menghadapi tantangan signifikan. Salah satu kendala utama adalah banyaknya pelaku yang masuk menggunakan visa turis, sehingga mempersulit penerapan sanksi hukum yang sesuai.

Pada bulan April lalu, saat dilakukan penggerebekan di sebuah properti di pantai barat, petugas menemukan lebih dari 150 warga negara asing yang diduga sedang menjalankan operasi penipuan daring. Beberapa hari kemudian, penelusuran lanjutan di gedung apartemen dekat Kolombo menghasilkan penangkapan 120 warga negara asing lainnya.

Seiring meningkatnya tekanan dari otoritas setempat, para pelaku menunjukkan adaptasi cepat dengan meninggalkan markas besar. Mereka kini bergerak ke kamar-kamar hotel, gedung apartemen, atau kantor yang dapat disewa dalam jangka waktu pendek.

"Hal ini terjadi dengan cara yang sayangnya bahkan lebih sulit untuk kita awasi," kata Erin West, pendiri organisasi nirlaba anti-penipuan Operation Shamrock.