TREN.BISNISMARKET.COM - MNC Sekuritas memberikan pandangan positif bagi investor pasar modal dengan mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Langkah ini diambil sebagai solusi investasi meskipun emiten perbankan pelat merah tersebut sedang menghadapi tekanan jual yang cukup tinggi dari investor asing.

Target harga yang ditetapkan untuk bank yang fokus pada segmen UMKM ini berada di level Rp 4.050 per lembar saham. Proyeksi tersebut mencerminkan adanya potensi kenaikan harga atau upside hingga 29,8 persen dibandingkan dengan posisi harga saat ini.

Penilaian optimis ini didasarkan pada perhitungan fundamental, yakni estimasi rasio price to book value (PBV) sebesar 1,9 kali untuk tahun 2026. Sementara itu, untuk proyeksi tahun 2027, rasio PBV perusahaan diperkirakan berada pada level 1,8 kali.

"Valuasi saham BBRI saat ini dinilai masih sangat menarik karena posisinya berada sekitar -2,5 standar deviasi di bawah rata-rata historis selama sepuluh tahun terakhir," ujar Victoria Venny selaku Analis MNC Sekuritas.

Dikutip dari Investor Daily melalui data Stockbit Sekuritas, saham BBRI menjadi salah satu instrumen yang paling banyak dilepas investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selama periode 11 hingga 13 Mei 2026, nilai jual bersih (net sell) asing tercatat mencapai angka Rp 390,7 miliar.

Tekanan jual ini menempatkan BBRI di posisi kedua setelah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dalam daftar net sell asing terbesar. Pada penutupan perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, harga saham BBRI sendiri terkoreksi sebesar 3,1 persen menuju level Rp 3.120.

Pergerakan harga saham BBRI menunjukkan pelemahan sebesar 1,2 persen dalam satu pekan terakhir. Jika ditarik lebih jauh, nilai saham bank ini telah menyusut 7,9 persen dalam sebulan dan terkoreksi hingga 14,7 persen sepanjang tahun berjalan (year to date).

Sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian global, BRI telah menyiapkan strategi matang melalui tiga skenario harga minyak dunia. Skenario tersebut mencakup harga dasar sebesar US$ 80, skenario moderat US$ 100-105, hingga kondisi pesimistis di angka US$ 115-133 per barel.

"Meskipun menghadapi berbagai skenario dampak geopolitik tersebut, rasio permodalan BBRI diperkirakan akan tetap berada dalam kondisi yang kuat," kata Victoria Venny dalam risetnya.