TREN.BISNISMARKET.COM - Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) baru-baru ini mengeluarkan imbauan penting bagi seluruh pengguna jalan raya terkait peningkatan insiden perilaku mengemudi yang agresif atau ugal-ugalan. Imbauan ini bertujuan untuk mencegah eskalasi konflik yang dapat berujung pada kecelakaan lalu lintas yang lebih fatal.

Fenomena pengendara yang melakukan manuver sembarangan, seperti perpindahan jalur secara tiba-tiba atau ngebut tanpa perhitungan, seringkali terlihat di berbagai ruas jalan. Perilaku "grasak-grusuk" ini menjadi sorotan utama dalam diskusi keselamatan berkendara belakangan ini.

Menurut analisis SDCI, akar permasalahan dari perilaku mengemudi yang agresif ini seringkali bersumber dari kondisi emosional pengemudi yang sedang bermasalah. Tekanan pribadi atau masalah di luar konteks berkendara dapat terluapkan saat mereka berada di balik kemudi.

Hal ini disampaikan langsung oleh Sony Susmana, Training Director dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Jumat (22/5/2026). Informasi ini kemudian disebarluaskan melalui kanal Otomotif.

"Selama perjalanan pasti ketemu dengan bermacam-macam karakter pengemudi dengan segudang masalah. Biasanya mereka menumpahkan atau mengekspresikan masalahnya di perjalanan, seperti curhat tapi ekstrem, misalnya ugal-ugalan atau grasak-grusuk," ujar Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI).

Pesan krusial yang ditekankan SDCI adalah agar pengemudi lain tidak terpancing untuk membalas tindakan provokatif tersebut dengan reaksi agresif. Mengambil tindakan balasan hanya akan meningkatkan risiko bahaya bagi semua pihak yang terlibat dalam lalu lintas.

"Lebih baik mengalah, menjauh, dan menghindar untuk keselamatan," kata Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), menekankan pentingnya mengutamakan keselamatan diri sendiri daripada terlibat dalam adu emosi di jalan.

Pengemudi disarankan untuk menerapkan prinsip defensive driving, yaitu teknik berkendara antisipatif yang fokus pada pencegahan potensi bahaya. Ini mencakup menjaga jarak aman yang memadai dari kendaraan di depan dan belakang.

Penerapan prinsip defensive driving ini menjadi kunci utama untuk menghindari potensi konflik yang tidak perlu di jalan raya. Dengan mengantisipasi tindakan buruk orang lain, pengemudi dapat mengendalikan situasi secara lebih tenang dan aman.