TREN.BISNISMARKET.COM - Fenomena penurunan tingkat kesuburan atau fertility rate global menjadi perhatian serius, terutama di negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan China yang menghadapi risiko penurunan demografi signifikan. Tingkat kelahiran yang jauh di bawah angka pengganti populasi (2,1 anak per wanita) mengindikasikan perlunya analisis mendalam mengenai faktor pemicunya.

Secara umum, faktor ekonomi, biaya hidup yang tinggi, serta meningkatnya kesadaran feminisme sering disebut sebagai alasan utama masyarakat enggan memiliki anak. Namun, muncul faktor tak terduga yang mulai diuji secara ilmiah sebagai kontributor utama tren demografi ini.

Faktor tak terduga tersebut adalah meluasnya adopsi dan penggunaan smartphone di masyarakat dunia. Para pakar telah lama menduga adanya hubungan antara peningkatan penggunaan gawai pintar dengan penurunan angka kelahiran yang terjadi secara simultan.

Dilansir dari New York Times, penurunan signifikan angka kelahiran mulai teramati sejak tahun 2007, tahun yang sama ketika perangkat iPhone pertama kali diluncurkan ke pasar. Meskipun demikian, pembuktian korelasi yang akurat selalu menjadi tantangan besar bagi para peneliti.

Upaya ilmiah terbaru untuk menguji kaitan ini dilakukan melalui dua studi berbeda, salah satunya dipublikasikan pada Senin (8/6) dan studi lainnya pada Mei 2026, yang berusaha mengupas tuntas hubungan antara smartphone dan angka kelahiran di Amerika Serikat serta negara lain selama dua dekade terakhir.

Para peneliti telah menguji berbagai variabel lain seperti penggunaan kontrasepsi, angka aborsi, peningkatan pendidikan perempuan, hingga pengaruh budaya pop seperti acara televisi "16 and Pregnant", namun korelasi dengan teknologi menjadi fokus baru.

Caitlin Myers, seorang ekonom dari Middlebury College, bersama mahasiswanya Ezekiel Hooper, memanfaatkan peluncuran iPhone yang tidak serentak di seluruh wilayah AS untuk mengisolasi dampak gawai pintar terhadap kesuburan. Mereka membandingkan wilayah dengan cakupan jaringan AT&T yang luas sebelum tahun 2011 dan wilayah yang minim cakupan.

Hasil penelitian mereka, yang diterbitkan dalam National Bureau of Economic Research, menunjukkan bahwa peluncuran iPhone menyebabkan penurunan kesuburan hingga setengahnya antara tahun 2007 hingga 2011, khususnya pada kelompok usia muda 15 hingga 24 tahun.

Profesor Myers menjelaskan salah satu teori mengapa hal ini terjadi, yaitu perubahan pola interaksi sosial di kalangan muda. "Salah satu teori, anak muda mulai lebih banyak bersosialisasi melalui smartphone mereka dan kurang berinteraksi langsung, sehingga mereka cenderung kurang melakukan hubungan seks dan hamil," ujar Profesor Myers.