TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia mengidentifikasi tata kelola korporasi sebagai salah satu faktor fundamental yang sangat penting dalam menarik investor untuk menanamkan modal di Tanah Air. Hal ini menjadi krusial terutama di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi global yang sedang melanda dunia saat ini.

Adanya penekanan ini disampaikan langsung oleh Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN, Ferry Irawan. Beliau mengungkapkan hal tersebut saat menghadiri acara Sosialisasi Annual Report Award (ARA) 2025 yang diselenggarakan oleh Komite Nasional Kebijakan Governans (KNKG) di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, pada Senin (11/5/2026).

Ferry Irawan menjelaskan bahwa dalam situasi ekonomi yang tidak pasti, para investor cenderung menjadi lebih selektif dalam menentukan lokasi penanaman modal mereka. Salah satu aspek penilaian utama yang mereka pertimbangkan adalah kualitas tata kelola perusahaan yang dijalankan.

"Investor tentu memprioritaskan negara-negara yang memiliki fundamental yang kuat, regulator yang kredibel, serta korporasi yang mampu menerapkan tata kelola yang baik secara konsisten," ucap Ferry Irawan.

Menurut Ferry, Indonesia memiliki peluang besar untuk menguatkan fondasi tata kelola, baik pada tingkat makro maupun di level korporasi. Penguatan ini dipandang sebagai sumber daya struktural yang berkelanjutan untuk menarik modal.

Investasi merupakan komponen vital yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia guna mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan mencapai target ambisius pertumbuhan sebesar 8% pada tahun 2029 mendatang.

Kebutuhan investasi total yang telah tercantum dalam dokumen rancangan awal Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027 mencapai angka Rp8.677,39 triliun hingga Rp8.841,32 triliun. Dana tersebut diperlukan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,9% hingga 7,5% di tahun 2027.

Ferry Irawan juga menekankan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan menuntut peningkatan kecepatan investasi dan produktivitas. Diperlukan juga penguatan sektor-sektor berkualitas seperti pertanian, manufaktur, hilirisasi, ekonomi digital, dan ketahanan energi.

"Dan hanya modal itu akan mengalir pada saat terdapat tingkat kepercayaan terhadap kualitas tata kelola baik dari sisi pemerintah maupun di sisi korporasinya," kata Ferry Irawan.