TREN.BISNISMARKET.COM - Sektor transportasi darat di Indonesia tengah berada di persimpangan jalan yang sulit, di mana beban operasional perusahaan otobus (PO) dilaporkan semakin mencekik leher. Kondisi ini muncul akibat kombinasi tantangan ekonomi makro dan potensi perubahan regulasi pemerintah yang akan datang.
Tekanan utama yang dihadapi para pengusaha ini bersumber dari fluktuasi nilai tukar rupiah yang tidak stabil. Ketidakstabilan mata uang tersebut secara langsung mendorong kenaikan signifikan pada harga suku cadang yang dibutuhkan untuk perawatan armada bus.
Situasi ekonomi diperparah dengan adanya wacana kebijakan fiskal baru dari pemerintah yang berpotensi meningkatkan biaya operasional lebih lanjut. Dua rencana utama yang mengkhawatirkan adalah kemungkinan kenaikan tarif tol di beberapa ruas strategis dan kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan, menyampaikan bahwa para pelaku usaha telah menyusun kalkulasi keuangan terperinci mengenai dampak kondisi riil ini. Dokumen tersebut telah disampaikan kepada Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Angkutan Darat (DPP Organda).
Mengenai upaya mitigasi, Kurnia Lesani Adnan mengungkapkan adanya celah yang dapat dimanfaatkan untuk meringankan beban pengusaha. "Sebenarnya indirect cost ini banyak celah yang bisa pemerintah support supaya biaya kita tetap rendah. Apa itu? Perpajakan, PPH Badan, lalu biaya tol," ucap pria yang akrab disapa Sani di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Kekhawatiran mendalam muncul terkait potensi pengenaan PPN pada tarif tol yang sudah direncanakan naik. Menurut Sani, kebijakan gabungan ini akan menjadi pukulan berat karena biaya tol merupakan salah satu pos pengeluaran terbesar armada, selain bahan bakar minyak (BBM).
"Kemarin kan ada kabar tarif tol mau naik tuh, mau dikenakan PPN katanya. Nah, itu kan ramai juga nanti," kata Sani, menyoroti isu yang tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan industri.
Data operasional menunjukkan bahwa biaya BBM dan tol saja dapat menggerus antara 40 hingga 45 persen dari total alokasi modal perjalanan bus. Sementara itu, harga kebutuhan rutin seperti ban dan oli dilaporkan sudah meningkat hingga sekitar 20 persen akibat pelemahan rupiah.
Anthony Steven Hambali, pemilik PO Sumber Alam, memaparkan bahwa total inflasi yang dirasakan oleh sektor angkutan bus saat ini sudah terakumulasi cukup tinggi. "Tingkat inflasi pada sektor industri angkutan bus saat ini sebetulnya sudah menumpuk hingga menyentuh angka kisaran 30 persen," ungkap Anthony.