TREN.BISNISMARKET.COM - Uni Emirat Arab (UEA) mengambil langkah strategis dalam menghadapi ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Teluk. Negara ini sedang mempercepat penyelesaian proyek pipa minyak baru sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz sebagai jalur ekspor utama.
Percepatan pembangunan infrastruktur ini merupakan respons langsung terhadap ancaman blokade yang dilakukan Iran di selat vital tersebut. Penutupan jalur laut ini telah menyebabkan gangguan signifikan pada arus ekspor minyak dan gas dari berbagai negara Teluk.
Sultan Ahmed Al Jaber, CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), menyatakan bahwa kemajuan proyek pipa kedua ini telah menunjukkan hasil signifikan. Beliau mengindikasikan bahwa hampir separuh dari seluruh proses konstruksi fasilitas tersebut telah selesai dikerjakan.
Pembangunan jalur distribusi energi alternatif ini bertujuan untuk melipatgandakan kapasitas ekspor minyak ADNOC melalui pelabuhan Fujairah, yang terletak di Teluk Oman dan berada di luar jangkauan potensi blokade Selat Hormuz. Manajemen menargetkan fasilitas tersebut dapat beroperasi penuh pada tahun 2027.
Dilansir dari Money, Al Jaber menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai konsentrasi jalur energi dunia pada titik-titik rawan. "Saat ini, terlalu banyak energi dunia masih mengalir melalui terlalu sedikit titik hambatan," ujar Al Jaber dalam sebuah wawancara di Atlantic Council pada Rabu (21/5/2026), sebagaimana dikutip dari CNBC.
Selama krisis berlangsung, UEA masih memanfaatkan jalur pipa lama menuju Fujairah, yang kapasitas maksimalnya hanya sekitar 1,8 juta barel per hari. Jumlah ini dinilai belum memadai untuk mengantisipasi dampak jangka panjang dari pemblokiran Selat Hormuz.
Stok Beras Nasional Tercatat Rekor Tertinggi, Bapanas Kirim Satgas Pangan Awasi Harga di Pasar
Al Jaber juga menyoroti dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh penyumbatan jalur air tersebut terhadap pasar komoditas global. "Blokade Hormuz telah memicu gangguan pasokan energi paling parah dalam sejarah," katanya.
Bahkan, berdasarkan perhitungan ADNOC, penutupan jalur tersebut telah menghilangkan lebih dari 1 miliar barel minyak dari suplai global, dengan kerugian terus bertambah mendekati 100 juta barel per pekan. Ia memproyeksikan pemulihan total pasokan memerlukan waktu transisi panjang.
"Diperlukan setidaknya empat bulan untuk meningkatkan aliran minyak hingga 80 persen dari tingkat normal bahkan jika konflik berakhir segera," ujar Al Jaber, menggarisbawahi panjangnya proses normalisasi pasca-konflik.