TREN.BISNISMARKET.COM - Drone kini telah menjadi salah satu instrumen perang paling populer dalam operasi militer modern di berbagai konflik global, termasuk perang antara Ukraina dan Rusia, serta konflik di Timur Tengah.
Peran sentral drone dalam pengintaian dan penyerangan aset-aset krusial telah memaksa banyak negara untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan pada fasilitas vital mereka.
Serangan drone tak jarang menyebabkan kelumpuhan operasional pada fasilitas penting, seperti yang terjadi di Bandara Eindhoven dan Munich pada akhir tahun 2025 akibat serangan drone yang mengganggu penerbangan selama berjam-jam.
Kondisi serupa juga terjadi di sektor energi, di mana serangan drone telah menargetkan ladang minyak dan kilang raksasa di kawasan Timur Tengah, meningkatkan urgensi penguatan sistem pertahanan udara sipil di seluruh dunia.
Dilansir dari Reuters pada Jumat (19/6/2026), terjadi pertumbuhan signifikan dalam pasar radar, pengacau sinyal, dan pesawat pertahanan yang dirancang untuk melindungi infrastruktur kritis dari ancaman udara tak berawak.
Sektor ini tidak hanya menarik investasi miliaran dolar untuk keperluan militer, tetapi juga meluas ke sektor sipil seperti energi, perkapalan, pusat data, hotel, dan tentunya, bandara.
Avinor, perusahaan yang mengelola 43 bandara di Norwegia, menjadi salah satu entitas yang telah mengimplementasikan sistem deteksi drone untuk mengatasi "gangguan dan penundaan" akibat pelanggaran drone sipil terhadap jalur lalu lintas udara.
Pihak RobinRadar, sebuah perusahaan anti-drone dari Belanda, mencatat peningkatan permintaan yang tajam dari pemerintah, bandara, dan operator infrastruktur sipil sebagai respons terhadap ancaman yang ada.
"Ada efek langsung dari banyaknya orang yang menghubungi kami," kata Siete Hamminga, CEO RobinRadar, mengenai lonjakan permintaan solusi anti-drone.