TREN.BISNISMARKET.COM - Perubahan pada alokasi anggaran Perpustaan Nasional (Perpusnas) menimbulkan kekhawatiran baru terkait pemerataan akses terhadap sumber bacaan. Kebijakan ini berpotensi besar menghambat upaya peningkatan literasi, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini sudah sulit dijangkau.

Dampak langsung dari pemangkasan anggaran ini diperkirakan akan sangat terasa di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Wilayah-wilayah ini seringkali menghadapi tantangan logistik dan infrastruktur yang signifikan dalam mendapatkan pasokan buku.

Pemangkasan ini dikhawatirkan akan semakin memperlebar jurang kesenjangan literasi antara wilayah perkotaan yang mudah mengakses informasi dengan daerah-daerah terpencil. Hal ini menjadi isu krusial dalam upaya mencerdaskan bangsa secara merata.

"Pemangkasan anggaran Perpustaan Nasional (Perpusnas) bakal membuat akses buku di daerah 3T terancam dan makin memperlebar kesenjangan literasi," merupakan rangkuman dari kekhawatiran yang muncul akibat kebijakan ini.

Dikutip dari sumber berita, pemangkasan anggaran tersebut secara spesifik mengancam ketersediaan dan distribusi buku di wilayah-wilayah yang paling membutuhkan. Ini berarti program-program pengembangan literasi yang sudah ada bisa terhenti atau berkurang efektivitasnya.

Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi para pegiat literasi dan pemerhati pendidikan. Mereka berpendapat bahwa investasi pada literasi, terutama di daerah terpencil, merupakan kunci penting untuk pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Upaya pemerataan akses buku di daerah 3T selama ini telah menjadi fokus utama Perpusnas. Pemangkasan anggaran ini bisa menggerus progres yang telah dicapai selama bertahun-tahun dalam menjangkau masyarakat di wilayah tersebut.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Industri.kontan. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.