TREN.BISNISMARKET.COM - Lebih dari empat bulan pasca serangan udara yang menewaskan lebih dari 120 anak di Sekolah Putri Shajareh Tayyebeh, Iran, bukti yang mengarah pada keterlibatan militer Amerika Serikat terus menguat.

Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan meragukan keaslian foto-foto sisa rudal yang ditemukan di lokasi kejadian. Ia berkelit dengan menyatakan bahwa gambar-gambar tersebut bisa saja merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI).

Analisis mendalam yang dilakukan oleh Sky News bersama lembaga Forensic Architecture merekonstruksi bangunan sekolah tersebut dalam format tiga dimensi. Hasilnya menegaskan bahwa lokasi tersebut telah berfungsi sebagai sekolah selama bertahun-tahun, menepis tuduhan bahwa serangan didasarkan pada data intelijen yang sudah kedaluwarsa.

Bukti lain yang terungkap mencakup penemuan serpihan rudal Tomahawk milik AS di lokasi serangan. Selain itu, ada pula bocoran penilaian dari analis militer yang cenderung mengarah pada tanggung jawab Pentagon atas insiden tersebut.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Fox News, Presiden Trump enggan memberikan pernyataan yang tegas mengenai hasil penyelidikan. Ia beralasan masih memerlukan waktu untuk berdiskusi lebih lanjut dengan para jenderalnya.

"Saya rasa tidak akan ada yang bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi di sana," ujar Donald Trump.

Ketika pewawancara mengingatkan adanya bukti visual berupa serpihan rudal Tomahawk yang ditemukan di lokasi, Trump memberikan jawaban yang mengundang pertanyaan. "Bisa saja itu terjadi karena data lama atau kesalahan saat pertempuran berlangsung sengit," ungkapnya.

"Tapi bisa juga gambar yang Anda miliki itu dibuat oleh AI. Saya tahu Anda menunggu laporan pasti, tapi saya rasa tidak akan pernah ada kesimpulan yang mutlak," tambah Trump, mengalihkan fokus dari bukti yang ada.

Pernyataan Presiden Trump ini dinilai sebagai contoh bagaimana teknologi kecerdasan buatan (AI) kini dapat dimanfaatkan untuk menutupi dugaan pelanggaran. Kemampuan AI dalam menciptakan gambar palsu justru dijadikan argumen untuk meragukan keaslian bukti yang mendokumentasikan tindakan keliru atau bahkan kejahatan.