TREN.BISNISMARKET.COM - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melaporkan pencapaian finansial yang impresif pada semester I-2026, membukukan laba bersih sebesar Rp30,4 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 24,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja positif ini terjadi di tengah lanskap ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian. Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, mengaitkan keberhasilan tersebut dengan ketahanan fundamental ekonomi domestik Indonesia yang kuat.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diproyeksikan tetap berada di atas 5% yoy, ditopang aktivitas ekonomi domestik yang solid serta kinerja fiskal pemerintah yang semakin kuat, baik dari sisi penerimaan maupun belanja," ujar Riduan. Pernyataan ini disampaikan dalam paparan kinerja kuartal II-2026 secara daring pada Kamis (23/7/2026).
Riduan menambahkan bahwa dengan kondisi fundamental ekonomi yang baik, pihaknya berharap nilai tukar rupiah dapat menunjukkan tren penguatan. Hal ini penting untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan para investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Komitmen Bank Mandiri dalam mendukung denyut perekonomian nasional terlihat jelas melalui pertumbuhan penyaluran kreditnya yang melampaui rata-rata industri perbankan. Total kredit BMRI melonjak 19,9% secara tahunan menjadi Rp1.592 triliun.
Pertumbuhan kredit ini hampir dua kali lipat dari tingkat pertumbuhan kredit industri perbankan nasional secara keseluruhan. Fokus penyaluran kredit tetap diarahkan pada sektor ekonomi riil yang produktif dan menyerap banyak tenaga kerja.
Salah satu sektor yang menunjukkan geliat signifikan adalah kredit ke segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pertumbuhan kredit UMKM Bank Mandiri tercatat sembilan kali lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan rata-rata industri.
Dari sisi penghimpunan dana, Bank Mandiri juga mencatatkan kinerja positif. Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan tumbuh solid sebesar 17,1%, melampaui pertumbuhan industri pada umumnya.
Kualitas aset Bank Mandiri tetap terjaga dengan baik, terbukti dari rasio kredit bermasalah (NPL) yang berada di level 0,15%. Angka ini jauh di bawah rata-rata industri perbankan nasional.