TREN.BISNISMARKET.COM - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyampaikan optimisme bahwa ketahanan pangan nasional akan tetap terjaga dengan baik. Keyakinan ini muncul meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memproyeksikan potensi musim kemarau yang lebih panjang akibat dampak fenomena iklim El Nino.

Kepercayaan diri Bapanas ini ditopang oleh tiga pilar utama, yaitu adanya surplus produksi beras yang signifikan, tingginya volume Cadangan Beras Pemerintah (CBP), serta berbagai langkah mitigasi yang telah disiapkan dan diimplementasikan sejak dini oleh pemerintah.

Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, menjelaskan bahwa pemerintah telah mengambil langkah proaktif untuk memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Penguatan ini difokuskan pada stok beras yang dikelola oleh Perum Bulog, serta penguatan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) untuk mengantisipasi potensi kendala pasokan selama musim kemarau panjang.

Dilansir dari Bisnis.com, Sarwo Edhy menyatakan bahwa hingga saat ini, kondisi cuaca yang terjadi belum memberikan dampak signifikan terhadap kegiatan pertanian. Hal ini memastikan bahwa target peningkatan produksi pangan nasional masih sangat mungkin untuk dicapai sesuai rencana awal.

Pemerintah, melalui Bapanas, terus berkoordinasi intensif dengan BMKG untuk memantau perkembangan iklim. Selain itu, petani didorong secara aktif untuk menyesuaikan pola tanam mereka agar selaras dengan perkembangan kondisi iklim terkini.

"Terkait dengan cuaca selama ini masih cukup normal sehingga belum berpengaruh terhadap pertanaman. Jadi peningkatan produksi tetap dapat tercapai. Kita selalu koordinasi dengan BMKG dan sudah menyosialisasikan pola tanam sesuai anjuran pemerintah," ujar Sarwo Edhy dalam keterangan resminya, dikutip pada Senin (29/6/2026).

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Bapanas, produksi beras nasional untuk periode Januari hingga Juni 2026 diperkirakan mampu menyentuh angka 19,2 juta ton. Angka ini jauh melampaui kebutuhan konsumsi nasional pada semester pertama yang diproyeksikan sebesar 15,4 juta ton, menghasilkan surplus sekitar 3,7 juta ton.

Sebagian besar surplus beras tersebut telah berhasil dikonversi menjadi Cadangan Beras Pemerintah melalui proses penyerapan gabah dan beras yang dilakukan oleh Bulog. Tercatat, hingga tanggal 26 Juni 2026, Bulog telah berhasil menyerap setara beras sekitar 3,2 juta ton langsung dari petani di berbagai daerah.

Meskipun realisasi penyaluran CBP melalui program-program pemerintah telah mencapai sekitar 1,07 juta ton, stok beras yang saat ini tersimpan di gudang Bulog masih berada di level yang sangat tinggi. Stok tersebut dilaporkan mencapai sekitar 5,17 juta ton, menjadikannya stok tertinggi sepanjang sejarah pencatatan pemerintah.