TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan aset kripto di pasar Asia pada Selasa (28/7) dilaporkan mengalami pelemahan signifikan. Aset digital terbesar, Bitcoin, terpantau mengalami penurunan harga menyusul meningkatnya kekhawatiran investor.

Hal ini dipicu oleh spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Kekhawatiran ini menciptakan sentimen negatif di kalangan pelaku pasar aset berisiko.

Bitcoin, yang merupakan aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, sempat anjlok hingga 2,3% pada pukul 09.00 waktu Singapura. Harganya dilaporkan mencapai US$63.414, level terendah dalam sebelas hari terakhir.

Tidak hanya Bitcoin, Ether, aset kripto terbesar kedua, juga turut merasakan dampak negatif. Ether mengalami koreksi harga yang lebih dalam, yaitu merosot 3,6% pada periode yang sama.

Citadel Securities memprediksi bahwa The Fed akan mengambil langkah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu (29/7). Kenaikan ini diperkirakan akan menjadi kejutan bagi pasar.

Langkah tersebut dinilai juga akan memperkuat kredibilitas Gubernur The Fed, Kevin Warsh, dalam upayanya untuk mengendalikan laju inflasi di Amerika Serikat.

Saat ini, para pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed berada di kisaran satu banding tiga. Kenaikan biaya pinjaman secara umum cenderung membuat investor mengurangi alokasi pada aset-aset berisiko.

"Bitcoin terutama tertekan oleh meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga The Fed, serta kekhawatiran makro terkait risiko kredit yang dipicu perkembangan kecerdasan buatan (AI)," ujar Caroline Mauron, salah satu pendiri Orbit Markets.

Lebih lanjut, Caroline Mauron menambahkan, "Level berikutnya yang perlu dicermati di sisi bawah adalah US$62.000, dengan dukungan kuat diperkirakan berada di sekitar US$60.000."