TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyoroti isu kenaikan harga Liquefied Natural Gas (LNG) yang membebani sektor energi nasional. Isu ini menjadi perhatian serius mengingat peran vital gas alam dalam kebutuhan energi domestik.

Permasalahan utama yang diidentifikasi sebagai pemicu mahalnya harga LNG di Indonesia berkaitan erat dengan struktur rantai pasok yang dinilai terlalu panjang. Rantai distribusi yang berliku ini otomatis menambah lapisan biaya operasional yang signifikan.

Biaya operasional yang tinggi ini mencakup seluruh tahapan, mulai dari proses produksi di sektor hulu hingga tahapan distribusi akhir kepada konsumen. Setiap mata rantai dalam proses tersebut menyumbang pada akumulasi harga jual akhir.

Sebagai respons terhadap situasi ini, Kementerian ESDM tengah mengupayakan langkah intervensi konkret untuk menstabilkan harga di pasar. Langkah ini diambil demi menjaga daya saing dan ketersediaan energi bagi masyarakat dan industri.

Intervensi yang direncanakan oleh pemerintah berfokus pada penataan ulang struktur rantai pasok yang selama ini dianggap belum efisien. Upaya ini diharapkan dapat memangkas biaya yang tidak perlu.

"Tingginya harga gas disebabkan rantai pasok panjang dan biaya operasional dari hulu hingga distribusi," ujar perwakilan Kementerian ESDM, menjelaskan akar permasalahan kenaikan harga LNG.

Lebih lanjut, pemerintah menegaskan bahwa penataan ulang rantai pasok ini merupakan fokus utama dalam strategi jangka pendek dan menengah mereka. Hal ini dilakukan untuk memastikan efisiensi biaya dapat tercapai.

"Intervensi dilakukan via penataan ulang," tambah sumber dari ESDM, menggarisbawahi bahwa reformasi struktural adalah kunci utama dalam mengatasi lonjakan harga gas alam cair ini.

Dikutip dari sumber berita terkait, langkah perbaikan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif langsung terhadap harga jual LNG, sehingga meringankan beban konsumen akhir di Indonesia.