TREN.BISNISMARKET.COM - Dilansir dari CNBC Indonesia, banyak pernyataan yang selama ini dianggap sebagai fakta ilmiah, seperti klaim bahwa manusia hanya menggunakan 10% otaknya, ternyata keliru besar. Pernyataan-pernyataan populer ini telah mengakar kuat dalam pemahaman masyarakat, padahal secara ilmiah, hal tersebut tidak berdasar.
Artikel ini akan mengulas sejumlah mitos sains populer yang masih banyak dipercaya dan menyajikan penjelasan ilmiah yang meluruskannya. Mitos-mitos ini tersebar luas dan sering kali menghambat pemahaman yang benar tentang cara kerja dunia di sekitar kita.
Salah satu mitos yang paling terkenal adalah anggapan bahwa manusia hanya memanfaatkan 10% dari kapasitas otaknya. Kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa manusia menggunakan seluruh bagian otak mereka, bukan hanya sebagian kecil saja.
Data pemindaian otak telah memberikan bukti kuat mengenai fungsi menyeluruh otak; secara logika, evolusi tidak akan mempertahankan organ yang memakan 20% energi tubuh namun tidak berfungsi. "Jika sebagian besar otak tidak berguna, evolusi tidak akan membentuk organ yang memakan banyak energi tetapi tidak berfungsi," jelas sumber berita tersebut.
Mitos kedua berkaitan dengan sisi Bulan yang dianggap selalu gelap, dipopulerkan oleh lagu "The Dark Side of the Moon". Faktanya, sisi yang tidak pernah terlihat dari Bumi disebut "sisi jauh Bulan", dan sisi ini tetap menerima sinar matahari layaknya belahan Bumi lainnya.
Fenomena ini terjadi karena adanya fenomena tidal locking, di mana periode rotasi Bulan sama dengan waktu mengelilingi Bumi, sehingga sisi yang menghadap Bumi selalu konstan. "Saat kita melihat bulan sabit atau bulan separuh, itu berarti sinar Matahari justru sedang menyinari sisi yang tidak bisa kita lihat," tambah keterangan tersebut.
Mengenai mitos bahwa bulan purnama memicu perilaku aneh atau peningkatan kejahatan, berbagai penelitian ilmiah tidak menemukan korelasi sebab-akibat yang signifikan. Peningkatan aktivitas yang diamati seringkali berkaitan dengan faktor eksternal seperti akhir pekan atau hari libur, bukan karena pengaruh cahaya bulan.
Mitos tentang gula yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif juga sering dipercaya oleh orang tua, terutama saat pesta ulang tahun. Secara ilmiah, tidak ada bukti kuat bahwa gula secara langsung memicu hiperaktivitas, kecuali pada kasus metabolisme insulin yang sangat spesifik.
Energi ekstra yang terlihat pada anak-anak biasanya berasal dari kegembiraan suasana pesta, interaksi sosial, atau kandungan kafein dalam minuman pendamping. Namun, konsumsi gula berlebihan tetap harus diwaspadai karena dapat memicu obesitas dan diabetes, sebagaimana dicatat dalam data konsumsi gula Amerika yang melonjak drastis.