TREN.BISNISMARKET.COM - PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) secara terbuka mengakui bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah yang melemah mulai memberikan tekanan signifikan terhadap struktur biaya operasional mereka. Tekanan ini terutama terasa pada pengadaan material konstruksi yang sebagian besar masih bergantung pada impor atau bahan baku dolar AS.
Hal ini menjadi tantangan utama bagi sektor properti dan konstruksi nasional dalam menjaga profitabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dampak pelemahan mata uang diyakini akan terus menggerus margin keuntungan jika tidak diimbangi dengan langkah mitigasi yang efektif.
Menghadapi situasi ini, manajemen TOTL telah mengambil langkah proaktif untuk menjaga kesinambungan bisnis dan menjaga kesehatan keuangan perusahaan. Strategi utama difokuskan pada peningkatan efisiensi di seluruh lini operasional proyek.
"TOTL melakukan efisiensi, mengoptimalkan pengadaan, dan memilih proyek secara prudent," merupakan inti dari strategi yang dijalankan perusahaan saat ini. Langkah ini bertujuan meminimalkan eksposur terhadap kenaikan biaya material yang dipicu oleh kurs.
Pengoptimalan pengadaan material menjadi kunci, di mana perusahaan berupaya mencari pemasok lokal atau melakukan pembelian dalam volume besar saat kondisi kurs masih menguntungkan. Pemilihan proyek yang prudent menunjukkan selektivitas tinggi dalam menerima kontrak baru.
Meskipun menghadapi tantangan kurs, geliat bisnis TOTL tetap menunjukkan optimisme dari sisi perolehan kontrak baru. Perusahaan berhasil mengamankan sejumlah proyek strategis dalam beberapa waktu terakhir.
Hingga periode Mei 2026, tercatat bahwa PT Total Bangun Persada Tbk telah berhasil meraih kontrak baru dengan nilai akumulatif mencapai Rp 2,6 triliun. Angka ini menjadi indikasi kepercayaan pasar terhadap kapabilitas eksekusi proyek perusahaan.
Perolehan kontrak baru sebesar Rp 2,6 triliun hingga Mei 2026 ini menjadi penopang penting bagi pendapatan perusahaan ke depan, sekaligus menjadi bukti kemampuan manajemen dalam menyeimbangkan risiko kurs dengan potensi pertumbuhan.
Dikutip dari sumber informasi mengenai kinerja perusahaan, langkah efisiensi dan kehati-hatian dalam memilih proyek adalah respons langsung terhadap volatilitas nilai tukar yang mempengaruhi harga material konstruksi.