TREN.BISNISMARKET.COM - Adrian Willem Ban Kwie Lauw-Zecha, atau yang lebih dikenal sebagai Adrian Zecha, merupakan sosok pendiri Aman Group yang mungkin belum sepopuler konglomerat lain di Indonesia. Pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat ini berhasil membangun sebuah jaringan resor dan hotel mewah yang sangat prestisius secara global.
Aman Resort kini dikenal luas sebagai jaringan hotel mewah yang tersebar di berbagai belahan dunia karena estetika budaya yang sangat kental. Daya tarik utamanya adalah kemampuannya menyajikan pengalaman menginap yang eksklusif dan memukau bagi pelancong internasional.
Di Indonesia sendiri, salah satu properti ikonik milik grup ini adalah Amanjiwo di Magelang, Jawa Tengah. Hotel ini menawarkan pemandangan spektakuler langsung ke arah Candi Borobudur yang menjadi daya tarik utama bagi tamu.
Saat ini, tampuk kepemimpinan Aman Group dipegang oleh CEO berkebangsaan Rusia bernama Vladislav Doronin. Namun, tonggak sejarah berdirinya perusahaan ini dimulai jauh sebelumnya, yakni oleh Adrian Zecha sendiri.
Kisah hidup pendiri Aman ini penuh liku, di mana ia pernah mengalami pengusiran dari tanah air sebelum akhirnya mendulang kesuksesan besar di industri perhotelan tingkat dunia. Ia tercatat mendirikan Aman Resort pertama kali pada tahun 1988, dan kini telah beroperasi di 20 negara.
Adrian tumbuh dari keluarga Tionghoa terpandang dan sangat berada di Indonesia, yang dalam publikasi Mely Tan disebut sebagai 'cabang atas' keluarga Tionghoa kaya raya di masa itu. Ayah Adrian, William Lauw-Zecha, bahkan merupakan orang Indonesia pertama yang menyelesaikan pendidikan di Lowa University, Amerika Serikat, pada tahun 1923.
Meskipun memiliki latar belakang istimewa dan sempat berkuliah di Pennsylvania sekitar tahun 1950-an, kedudukan terhormat keluarganya di Indonesia tiba-tiba runtuh pada periode 1956-1957. Hal ini terjadi seiring dengan kebijakan nasionalisasi perusahaan swasta oleh Presiden Soekarno.
Akibat sentimen yang meningkat terhadap non-pribumi saat itu, bisnis keluarga Zecha harus diambil alih oleh negara, memaksa mereka sekeluarga pindah dan bermukim di Singapura. Untungnya, Adrian saat itu sedang berada di Amerika Serikat karena sedang bekerja sebagai jurnalis untuk majalah Time.
Jauh sebelum terjun ke bisnis perhotelan pada 1988, Adrian Zecha mengawali karirnya sebagai jurnalis wisata yang membuatnya berkeliling dunia. Pengalaman meliput berbagai destinasi wisata inilah yang kemudian menumbuhkan minat mendalamnya pada sektor pariwisata dan perhotelan.