TREN.BISNISMARKET.COM - Gangguan pasokan listrik bergilir yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa mulai memberikan dampak serius terhadap sektor industri baja nasional. Industri manufaktur yang sangat mengandalkan pasokan listrik stabil kini menghadapi potensi hambatan signifikan pada lini produksi mereka.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha baja mengenai keberlanjutan operasional pabrik mereka dalam beberapa waktu ke depan. Ketergantungan proses peleburan dan pembentukan baja terhadap listrik membuat setiap interupsi pasokan berpotensi besar menurunkan volume output.
Ketua Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Harry Warganegara, mengonfirmasi bahwa pemadaman telah memengaruhi operasional pabrik baja di berbagai daerah. Dampak yang dirasakan oleh setiap perusahaan berbeda-beda, tergantung pada durasi dan pola penjadwalan pengurangan beban listrik.
Dilansir dari Bisnis, pada hari Minggu (21/6/2026), Harry Warganegara menyampaikan situasi spesifik di Jawa Timur. "Berdasarkan informasi dari pelaku industri, di Jawa Timur pemadaman umumnya berlangsung sekitar 4 hingga 6 jam," ujarnya.
Kalkulasi kerugian produksi menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan bagi sektor ini. Dengan asumsi kapasitas produksi minimal antara 100 ton hingga 200 ton per jam, penghentian operasi selama empat hingga enam jam berpotensi menimbulkan kerugian substansial.
"Dengan kapasitas produksi minimal sekitar 100 ton hingga 200 ton per jam, penghentian operasi selama periode tersebut berpotensi menyebabkan kehilangan produksi sekitar 400 ton hingga 1.200 ton," jelas Harry Warganegara.
Selain di Jawa Timur, industri baja lapis yang berlokasi di kawasan Cikarang juga melaporkan mengalami pemadaman listrik yang lebih panjang, yakni mencapai delapan jam. Namun, karena pemadaman dilakukan secara bergilir, dampak kerugian tidak seragam di seluruh pabrik.
Sementara itu, kondisi di DKI Jakarta relatif lebih baik, di mana pelaku industri baja melaporkan bahwa kegiatan produksi mereka masih berjalan normal tanpa ada gangguan pemadaman listrik hingga saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan beban listrik masih bervariasi antar wilayah.
IISIA secara tegas mengingatkan bahwa kesinambungan pasokan listrik adalah prasyarat utama bagi kelancaran industri baja. Jika gangguan ini terus berlanjut dalam durasi yang lama, konsekuensinya adalah peningkatan kerugian produksi dan potensi kegagalan memenuhi permintaan pasar yang telah ada.