TREN.BISNISMARKET.COM - Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) baru-baru ini mengajukan sebuah gagasan inovatif terkait struktur tarif layanan bus Transjakarta di ibu kota. Usulan ini berupa skema tarif berlangganan bulanan yang dibanderol seharga Rp200.000 bagi para komuter yang rutin menggunakan layanan tersebut.
Tujuan utama dari pengajuan skema langganan ini adalah untuk meringankan beban pengeluaran rutin pekerja yang setiap hari mengandalkan transportasi umum. Selain itu, inisiatif ini diharapkan dapat menjadi stimulus positif bagi produktivitas ekonomi daerah melalui peningkatan penggunaan transportasi massal.
Gagasan ini terinspirasi dari model serupa yang sudah diterapkan di berbagai negara maju, yang terbukti efektif dalam meningkatkan loyalitas penumpang terhadap layanan transportasi publik. DTKJ melihat ini sebagai langkah strategis untuk memperbaiki tata kelola sistem tarif di Jakarta.
"Kita mendorong tarif langganan. Kan di luar negeri banyak tuh langganan,” ujar Ketua DTKJ Sugihardjo saat dikonfirmasi mengenai usulan tersebut. Dilansir dari Antara, Sabtu (4/7/2026), usulan ini sejalan dengan rencana penyesuaian tarif reguler Transjakarta menjadi Rp5.000 untuk semua layanan terintegrasi.
Formulasi skema berlangganan ini dirancang berdasarkan asumsi mobilitas pekerja kantoran yang umumnya melakukan perjalanan pulang pergi selama 25 hari kerja dalam sebulan. Pola mobilitas inilah yang menjadi basis utama kalkulasi tim perumus untuk menetapkan nilai keekonomian paket yang adil.
Berdasarkan simulasi perhitungan tersebut, jika seorang komuter membayar tarif harian Rp10.000 (pulang pergi) selama 25 hari, total pengeluaran bulanan mencapai Rp250.000. Oleh karena itu, DTKJ merekomendasikan diskon signifikan bagi anggota paket langganan.
"Jadi kalau orang yang bekerja hitungannya sehari sebulan 25 hari kerja. Itu tarifnya mestinya kalau Rp5.000 berangkat, Rp5.000 pulang, udah Rp10.000. Kan jadi kali 25 hari berapa? Rp250.000," papar Sugihardjo. Dengan demikian, tarif Rp200.000 memberikan potongan sekitar 20% dari total biaya harian konvensional.
Meskipun demikian, rancangan formula tarif langganan ini masih bersifat draf dan belum final, karena DTKJ membuka ruang untuk penyesuaian berdasarkan masukan dari masyarakat. Dinamika kebutuhan di lapangan memunculkan aspirasi untuk opsi durasi yang lebih fleksibel.
"Saya bilang kalau untuk bulanan memang standardnya 25 (hari), tapi bagi mereka yang nggak sampai segitu dari masukan itu dan barangkali ada wisatawan kita mengenalkan juga tarif nanti yang kita usulkan untuk langganannya seminggu atau dua minggu supaya lebih murah," katanya.