TREN.BISNISMARKET.COM - Persaingan ketat antara dua raksasa kecerdasan buatan (AI), OpenAI dan Anthropic, diketahui menjadi pendorong utama pesatnya perkembangan teknologi AI generatif dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan teknologi yang sangat cepat ini menimbulkan kekhawatiran karena belum diimbangi dengan regulasi yang memadai untuk mengatasi dampaknya di masyarakat.

Dampak dari akselerasi AI ini mulai terasa signifikan di berbagai sektor, salah satunya adalah dunia kerja yang kini dibayangi oleh potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Banyak perusahaan teknologi besar melihat efisiensi dan produktivitas AI sebagai alasan utama di balik keputusan pengurangan tenaga kerja.

Kekhawatiran meluas di kalangan pekerja mengenai masa depan mereka seiring dengan peningkatan kecerdasan AI yang berpotensi menggantikan peran manusia secara keseluruhan. Selain itu, sektor lingkungan juga menanggung beban akibat pembangunan infrastruktur pusat data AI yang kian masif, memicu isu krisis air dan listrik.

Dampak negatif lainnya termasuk meningkatnya modus penipuan yang menjadi lebih canggih berkat bantuan AI, yang berpotensi menyebabkan kerugian finansial dan reputasi besar bagi para korban. Penyebaran disinformasi yang berpotensi memicu polarisasi sosial juga semakin dimudahkan oleh kemajuan pesat teknologi AI.

Kini, rivalitas antara OpenAI dan Anthropic telah merambah ke ranah pasar modal, di mana keduanya berlomba untuk menjadi perusahaan AI pertama yang melakukan penawaran umum perdana saham (IPO). Momentum ini dinilai krusial untuk membentuk persepsi investor mengenai nilai fundamental perusahaan di mata publik.

Pada akhir tahun 2022, OpenAI mengetahui bahwa Anthropic sedang mengembangkan chatbot pesaing, yang kemudian mendorong CEO OpenAI, Sam Altman, untuk segera memerintahkan timnya mempercepat peluncuran produk tandingan. Hasilnya, hanya dua minggu kemudian, ChatGPT dirilis dan memicu revolusi teknologi yang mengubah interaksi manusia dengan teknologi serta perekonomian global.

Urgensi yang serupa kini terlihat dalam rencana IPO kedua perusahaan, di mana status perusahaan publik pertama dianggap penting untuk mengukuhkan posisi CEO masing-masing sebagai tokoh utama dalam industri AI. Hingga Mei lalu, banyak penasihat keuangan memprediksi OpenAI akan memimpin proses IPO, bahkan telah menginformasikan target IPO paling cepat pada September tahun ini kepada beberapa investor.

Namun, Anthropic mengambil langkah lebih dulu dengan mengumumkan pengajuan dokumen IPO secara rahasia kepada regulator Amerika Serikat pada 1 Juni, diikuti oleh OpenAI seminggu kemudian. Persaingan ini tidak hanya melibatkan Sam Altman dan CEO Anthropic, Dario Amodei, yang sebelumnya merupakan rekan peneliti di OpenAI.

Persaingan ini kini menjadi perhatian besar di Wall Street karena jarang terjadi dua pesaing langsung dengan skala sebesar ini menggalang dana publik secara hampir bersamaan, bahkan menggunakan bank investasi yang sama. OpenAI dikabarkan menargetkan valuasi sekitar US$1 triliun saat melantai di bursa saham.