TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah distrik sekolah di Amerika Serikat tengah menjadi sorotan publik karena keputusan mereka menggunakan robot asisten pengajar yang ternyata diproduksi oleh perusahaan yang dikenal luas sebagai pembuat boneka seks. Langkah ini memicu gelombang perdebatan di kalangan orang tua, pendidik, hingga para pakar teknologi.
Distrik Sekolah Pusat Kota Salamanca, New York, dilaporkan telah mengalokasikan dana sebesar US$57.590 atau sekitar Rp900 juta untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan robotika Realbotix. Robot yang diberi nama Sally ini dijadwalkan akan mulai beroperasi sebagai asisten pengajar di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) pada semester ini.
Kontrak tersebut menarik perhatian tajam karena Realbotix merupakan evolusi dari Abyss Creations, produsen boneka seks ternama dengan merek RealDoll. Perusahaan ini bahkan pernah memperkenalkan robot seks pria pertama pada tahun 2022, yang semakin mempertegas latar belakangnya. Meskipun pihak perusahaan menekankan bahwa Sally dirancang khusus untuk kebutuhan edukasi, tampilan fisiknya yang dilapisi kulit silikon menyerupai produk mereka sebelumnya menimbulkan keraguan signifikan dari berbagai pihak.
Robot Sally direncanakan akan berperan dalam mata pelajaran yang berkaitan dengan Sains, Teknologi, Rekayasa, Seni, dan Matematika (STEM). Klaim dari pihak pengembang menyebutkan bahwa robot ini mampu menyusun materi pembelajaran, menerjemahkan lebih dari 100 bahasa secara instan, bahkan memberikan panduan kepada guru jika ada materi yang terlupakan dalam penyampaian pelajaran.
Untuk menjamin akurasi informasi, pihak sekolah telah memberikan kepastian bahwa Sally tidak terhubung langsung ke internet. Robot ini diprogram untuk memberikan respons "saya tidak tahu" apabila tidak memiliki data yang tepat, demi menghindari penyebaran fakta yang keliru.
Kepala distrik sekolah, Mark Beehler, memberikan pembenaran atas keputusan tersebut dengan pandangan bahwa mencegah penggunaan teknologi bukanlah solusi yang ideal. "Siswa pasti akan menemukan cara untuk melanggar aturan yang dibuat sekolah. Saya percaya tugas sekolah adalah mengajarkan cara menggunakan teknologi dengan benar, bukan sekadar melarangnya," ucap Mark Beehler.
Namun, pandangan tersebut tidak mendapatkan dukungan luas. Serikat guru menyuarakan penolakan mereka terhadap keputusan ini, dengan tegas menyatakan bahwa dunia pendidikan sesungguhnya membutuhkan interaksi manusia yang otentik, bukan sekadar mesin.
"Masa depan pendidikan bukanlah kecerdasan buatan, melainkan kecerdasan manusia yang tulus yaitu hubungan antarmanusia, bimbingan, dan kesempatan agar setiap anak dikenal dan diinspirasi oleh guru yang hebat," tegas Presiden Serikat Guru New York, Melinda Person.
Para orang tua murid pun turut menyuarakan pertanyaan mengenai prioritas anggaran sekolah. Wilayah Salamanca diketahui memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi, dan mayoritas siswanya berasal dari keluarga yang kurang mampu.