TREN.BISNISMARKET.COM - Kawasan Dukuh Atas di Jakarta kini bertransformasi menjadi episentrum pertemuan berbagai moda transportasi publik utama di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Moda transportasi yang bertemu di titik ini meliputi MRT, KRL, LRT Jabodebek, Kereta Bandara, dan Transjakarta, menjadikannya titik transit vital bagi ribuan komuter setiap hari.
Kondisi ini mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan MRT Jakarta untuk membangun Pedestrian Deck Dukuh Atas yang monumental. Fasilitas ini dirancang untuk mengintegrasikan enam moda transportasi sekaligus, termasuk LRT Jakarta yang direncanakan akan terhubung hingga kawasan tersebut di masa mendatang.
Meskipun integrasi fisik terus ditingkatkan, tantangan perpindahan antar moda masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi sistem transportasi publik Jabodetabek secara keseluruhan. Sebuah survei yang dilakukan oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) pada tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 40% pengguna transportasi publik masih membutuhkan setidaknya satu kali transit untuk mencapai tujuan akhir mereka.
Perpindahan moda yang sering terjadi ini secara signifikan menambah waktu tempuh perjalanan komuter, terutama ketika koneksi antar moda tidak berjalan optimal atau layanan pengumpan (feeder) belum tersedia secara memadai. Fakta ini juga menjadi penghalang bagi peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.
ITDP juga mencatat bahwa sekitar 10% dari pengguna kendaraan pribadi masih enggan beralih ke transportasi publik karena keharusan melakukan transfer antar moda yang rumit. Sebaliknya, sekitar 20% masyarakat menyatakan kesediaan untuk beralih jika integrasi yang dilakukan terbukti mampu memperpendek durasi perjalanan mereka secara keseluruhan.
Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan, Mohammad Risal Wasal, menekankan bahwa integrasi transportasi harus dilakukan secara menyeluruh, melampaui sekadar pembangunan infrastruktur fisik semata. Menurutnya, terdapat lima aspek penting yang harus berjalan selaras demi keberhasilan integrasi ini.
"Terdapat lima aspek integrasi yang harus berjalan beriringan, yakni integrasi kelembagaan, fisik, pembayaran, jaringan, dan informasi," ujar Mohammad Risal Wasal.
Risal Wasal juga menegaskan bahwa keberhasilan integrasi transportasi publik sangat bergantung pada dukungan pemerintah daerah melalui kebijakan yang seimbang. Kebijakan ini harus mencakup pengendalian kendaraan pribadi sekaligus peningkatan kualitas layanan transportasi umum yang terintegrasi.
"Kebijakan pembatasan parkir, electronic road pricing (ERP), ganjil genap, hingga kawasan rendah emisi perlu berjalan beriringan dengan penguatan layanan transportasi publik yang terintegrasi," kata Risal Wasal.