TREN.BISNISMARKET.COM - Harga minyak mentah global menunjukkan volatilitas tinggi, ditandai dengan kenaikan tipis pada perdagangan Jumat namun mengalami kerugian besar secara keseluruhan dalam periode mingguan. Merujuk data Refinitiv, harga minyak Brent ditutup pada level US$101,29 per barel pada hari Jumat, 8 Mei 2026, setelah mengalami kenaikan sebesar 1,23% atau US$1,23 selama sesi tersebut.

Kontrak berjangka minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga mencatatkan kenaikan pada penutupan hari yang sama, yakni sebesar 61 sen atau 0,64%, berakhir di posisi US$95,42 per barel. Kenaikan ini berhasil memutus tren penurunan yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut sebelumnya.

Namun, jika dilihat secara mingguan, pelemahan yang terjadi cukup drastis; harga minyak Brent ambruk 6,36%, mengakhiri tren kenaikan yang sempat terjadi selama dua minggu berturut-turut sebelumnya. Sementara itu, WTI menunjukkan pelemahan yang lebih tajam dengan jatuh 10,17% sepanjang pekan, memutus tren positif tiga minggu terakhir.

Situasi pasar yang tidak menentu ini dijelaskan oleh seorang analis mengenai ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung. "Kita saat ini masih bergerak di tempat, dan itu memang wajar. Kita berada di ambang terobosan dalam negosiasi, atau justru di ambang pecahnya kembali pertempuran. Situasi seperti ini sudah sering terjadi," ujar John Kilduff, mitra di Again Capital, dikutip dari Refinitiv.

Pasar menunjukkan reaksi yang sangat sensitif terhadap setiap perkembangan berita, menyebabkan fluktuasi harga yang ekstrem dalam satu hari perdagangan. Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, menyoroti bagaimana pasar bereaksi secara berlebihan terhadap informasi terbaru yang muncul.

"Kita masih memainkan permainan yang digerakkan oleh berita utama. Saat ini pasar hanya bereaksi terhadap perkembangan di pinggiran," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.

Ketegangan di kawasan Teluk terus menjadi latar belakang utama pergerakan harga, dengan adanya bentrokan antara pasukan Amerika Serikat dan Iran serta serangan yang kembali menyasar Uni Emirat Arab. Amerika Serikat diketahui sedang menunggu respons dari Teheran terkait proposal yang diajukan untuk mengakhiri konflik yang dipicu oleh serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari.

Ketidakpastian ini diperparah oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berubah-ubah; setelah sempat menyatakan gencatan senjata masih berlaku pada Kamis malam, Trump kembali melontarkan ultimatum mengenai penghentian ambisi nuklir Iran keesokan harinya. Hal ini memicu pertanyaan penting mengenai prospek pasokan minyak global.

John Evans, analis dari PVM Oil Associates, menggarisbawahi faktor-faktor kunci yang harus diperhatikan pasar terkait pemulihan pasokan. "Pertanyaan penting adalah seberapa cepat pasokan dari negara-negara Teluk dapat kembali normal, bagaimana kondisi persediaan menjelang puncak musim konsumsi bensin, dan seperti apa bentuk sanksi setelah tercapainya kesepakatan," kata John Evans, analis dari PVM Oil Associates.