TREN.BISNISMARKET.COM - Sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 2022, ChatGPT telah meraih popularitas luar biasa dan diadopsi oleh jutaan pengguna di seluruh dunia. Namun, hampir empat tahun setelah peluncurannya, platform kecerdasan buatan milik OpenAI ini kini menghadapi tantangan serius berupa gerakan boikot terorganisir.
Sebuah inisiatif yang dikenal sebagai QuitGPT.org dilaporkan menggalang dukungan publik untuk menghentikan penggunaan ChatGPT secara massal oleh masyarakat luas. Gerakan ini bertujuan untuk memobilisasi pengguna global agar meninggalkan layanan chatbot populer tersebut.
"Kami tengah mengorganisir warga Amerika dan orang-orang di seluruh dunia berhenti menggunakan ChatGPT," tulis QuitGPT dalam pernyataan mereka, sebagaimana dikutip Jumat (12/6/2026).
Gerakan QuitGPT secara eksplisit menyoroti perjanjian antara CEO OpenAI, Sam Altman, dengan pemerintah Amerika Serikat. Mereka berpendapat bahwa kesepakatan ini menempatkan pengguna pada risiko karena teknologi AI tersebut diklaim akan menguntungkan pihak korporasi tertentu.
Mereka mengkhususkan perhatian pada dugaan kesepakatan tersebut dengan militer AS, yang dinilai berpotensi menimbulkan dampak negatif luas. "OpenAI setuju membiarkan Pentagon menggunakan teknologi untuk tujuan hukum apapun, termasuk robot pembunuh dan pengawasan massal," tulis gerakan itu.
Gerakan QuitGPT kemudian membandingkan kebijakan OpenAI dengan pesaing mereka, Anthropic. Diketahui bahwa Anthropic mengambil sikap berbeda dengan melarang penggunaan AI mereka untuk pengawasan massal warga AS atau pengembangan senjata berbasis AI.
Selain isu militer, gerakan ini juga menyoroti afiliasi politik para petinggi OpenAI dengan pemerintahan Donald Trump. Disebutkan bahwa Sam Altman dan Presiden OpenAI, Greg Brockman beserta istrinya, pernah menyalurkan donasi ke yayasan pendukung Trump, MAGA Inc, untuk tahun 2025.
Kontribusi finansial yang diberikan oleh para pimpinan OpenAI ini terbilang signifikan dibandingkan perusahaan AI besar lainnya. Brockman dikabarkan menyumbang sebesar US$25 juta, sementara Altman memberikan US$1 juta untuk biaya pelantikan Trump.
Gerakan QuitGPT mengklaim bahwa total sumbangan tersebut jauh melampaui kontribusi dari perusahaan AI lainnya. "Mereka bermesraan dengan Trump, saat ICE membunuh warga Amerika dan Departemen Kehakiman mencoba mengambil alih pemilu," tulis gerakan itu, merujuk pada alat penyaringan yang didukung oleh GPT-4.